Pada awalnya, setelah lulus SMA aku berencana mendaftarkan diri sebagai seorang taruni Akademi Angkatan Laut (AAL). Niatku tersebut harus pupus diawal karena aku memiliki masalah kesehatan dan dibutuhkan waktu minimal 3 bulan untuk menyembuhkannya. Setelah mengetahui aku gagal, aku tidak sedih, hanya saja aku bingung kemanakah arah masa depanku selanjutnya. Aku memang lulus SNMPTN dari sekolahku, tetapi setelah itu aku mendapatkan kegagalan lagi. Parahnya, aku mengetahui berita kegagalanku dalam SNMPTN itu saat aku sedang melaksanakan acara perpisahan SMA di Bali. 4 orang temanku ingin menangis karena hal itu. Aku? Tidak! Aku yakin bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah walaupun sebenarnya aku bingung harus kemana. Aku berniat untuk mendaftarkan diri tes SBMPTN di universitas negeri yang ada di Indonesia. Tetapi mama tidak mengijinkan. Mama justru berkata, "Yasudah, kamu berangkat kuliah ke Australia". Jujur, setelah mama berkata seperti itu aku tidaklah senang, karena aku takut bahwa itu hanyalah sebuah perkataan tanpa kenyataan. Aku masih merasa bahwa hal itu adalah hal yang mustahil, bisa berangkat kuliah di luar negeri. Walaupun sebenarnya kuliah di luar negeri khususnya di Australia adalah impianku sejak aku duduk dibangku SD. Semua orang menganggap bahwa aku tidak mungkin bisa berkuliah di luar negeri, hal itu membuatku semakin pesimis. Ditambah lagi banyaknya masalah yang ada padaku, salah satunya adalah masalah keluarga. Semua teman-temanku sibuk mendaftarkan diri mereka untuk mengikuti tes SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sedangkan aku? Hanya duduk diam di rumah dan bersantai walaupun sebenarnya sedih. Aku hanya takut, harus kemanakah aku setelah lulus SMA ini? Menjadi seorang pengangguran dan tidak memiliki arah tujuan yang jelas.
Hari demi hari setelah kelulusan SMA kulewati. Tanpa disangka, aku menerima tawaran pekerjaan untuk menjadi pelatih drumband di salah satu SMP yang ada di Sidoarjo. Aku menerima tawaran tersebut karena guru-guru yang ada di sekolah itu mengenal aku dan mengetahui bahwa aku dulu adalah seorang Gita Pati dari tim drumband SMA ku. Aku pun menerima tawaran itu, akupun mengajak 2 temanku, Ivan dan Hazuma karena mereka sendiri juga menganggur pada saat itu untuk menunggu pendaftaran TNI-AL di tahun 2018. Akhirnya kami pun bekerja sama untuk melatih drumband di SMP tersebut. Tak lama setelah itu, aku menerima tawaran untuk melatih dance di SMA ku sendiri. Wakasek kesiswaanku menghubungi aku melalui line. Beliau memintaku untuk melatih adek-adek kelasku dance untuk ditampilkan di HUT Yayasan Hang Tuah. Aku pun menerima tawaran itu. Setidaknya, aku tidak benar-benar menganggur setelah kelulusan SMA ku. Aku masih beraktivitas tidak hanya mengajar drumband dan dance, terkadang adek-adek kelasku datang ke rumahku untuk meminta bantuan menjelaskan tentang suatu mata pelajaran yang belum mereka mengerti, seperti Fisika, Kimia, dan lainnya. Rasanya aku benar-benar bersyukur, Tuhan sangat baik kepadaku. Tuhan tidak pernah mempermalukan aku. Disaat teman-teman seangkatanku telah diterima di perguruan tinggi negeri maupun swasta, Tuhan tidak membiarkan aku berdiam diri. Terkadang, disela-sela kesibukanku tersebut, aku juga pergi mendaki. Hobiku mendaki menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki diri dan belajar, sekaligus mengisi waktu luang.
Selama 5 bulan lebih aku menjalankan aktivitas seperti itu. Banyak orang yang men-judge aku karena mereka menganggap aku tidak memiliki masa depan hanya karena aku tidak kuliah di universitas. Aku hanya menjalankan aktivitasku sebagai seorang pekerja part-time dan menjalankan hobiku yaitu mendaki. Banyak orang yang men-judge hobiku sebagai seorang pendaki. Mereka menganggap mendaki adalah sesuatu yang buruk karena aku adalah seorang wanita dan teman-teman pendakianku rata-rata adalah anak laki-laki. Banyak yang menganggap bahwa aku hanya bersenang-senang dengan hobiku mendaki dan mereka mengira bahwa aku tidak memikirkan masa depanku. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pendakian selalu dianggap jelek dimata mereka. Aku hanya diam dan tertawa. Mereka tidak tahu makna dan pembelajaran apa yang kudapat dari pendakian. Justru dari pendakian aku belajar banyak hal. Setiap pendakian selalu memiliki pembelajarannya masing-masing. Karena itu, jika kalian bertanya mengapa aku mendaki, maka akan sangat susah untuk aku jelaskan, karena akan kuberikan jawaban yang berbeda-beda. Pendakian benar-benar mendewasakan aku. Kita tahu, tua itu pasti, tapi dewasa itu adalah pilihan. Orang yang sudah berumur tua terkadang masih tidak bisa mendewasakan pikiran. Orang yang berumur lebih muda dari kita pun terkadang sudah dapat berpikir dewasa. Oleh karena itu, dewasa tidak bergantung pada umur, tapi pada karakteristik kita.
Mama adalah seseorang yang selalu mendoakan aku. Sekalipun aku tidak percaya bahkan mengaggap mustahil untuk berkuliah di luar negeri, mama selalu yakin bahwa aku bisa. Pernah suatu hari aku pulang dari pendakian di Gunung Pundak, tiba-tiba mama berkata,
"De, tadi mama sudah telponan sama Om Paul. Kamu jangan mendaki-mendaki lagi, jaga diri. Om Paul tadi telepon, kamu disuruh ambil tes IELTS dulu" kata mama.
Dede adalah nama panggilanku di rumah. Kata-kata mama itu sebenarnya membuatku sedih, karena aku tidak diijinkan untuk mendaki lagi. Namun, benakku berkata bahwa mama tidak akan melarang sesuatu yang aku sukai selama itu positif. Mama adalah orang yang benar-benar mengerti aku. Setelah mendengar berita itu, aku dan mama membahas segala persiapan agar aku bisa berangkat kuliah di Australia. Aku menyarankan menggunakan salah satu agen pendidikan yang ada di Indonesia di daerah Surabaya. Aku mengetahui agen itu karena selama aku menganggur, aku sering mengikuti seminar-seminar mengenai cara menempuh pendidikan di luar negeri. Aku benar-benar mandiri dalam mencari informasi walaupun sebenarnya aku masih memiliki keraguan. Temanku, Dannisa dan Dimas adalah teman-temanku yang sering memberikanku informasi mengenai seminar tersebut dan kita juga sering pergi bersama untuk menghadiri seminar-seminar yang ada di daerah Surabaya. Setelah aku dan mama membahas segala sesuatu yang diperlukan, keesokan harinya pun aku dan mama pergi menuju agen pendidikan tersebut bersama Mbak Ros dan suaminya. Mereka adalah tetangga yang dekat dengan mama. Mereka juga membantuku dalam kepengurusan segala sesuatu yang kuperlukan. Kami menemukan alamat agen pendidikan tersebut melalui internet. Perjalanan dari Sidoarjo menuju Surabaya kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Akhirnya kami pun menemukan lokasi agen pendidikan tersebut. Tak kusangka ternyata sesorang yang bertugas di agen tersebut adalah orang yang sama yang pernah kutemui saat mengikuti seminar. Dia adalah Koko Aldo atau biasa kupanggil Ko Aldo. Kami berbincang mengenai rencana studiku. Ko Aldo memberikan informasi mengenai data-data yang harus kupersiapkan dan salah satunya adalah sertifikat IELTS (International English Language Testing System) yang merupakan tes internasional dalam kemampuan bahasa inggris yang diselenggarakan oleh Universitas Cambridge, British Council dan IDP Educational Australia. Ko Aldo menyarankan aku untuk mengikuti persiapan IELTS terlebih dahulu. Ia menyarankan aku belajar di salah satu tempat les IELTS ternama yang ada di Surabaya. Setelah mengetahui informasi mengenai tempat les tersebut, beberapa hari kemudian aku mendaftarkan diri. Aku mengambil kelas privat dan lesku akan berlangsung setiap hari Senin sampai dengan Jumat, dimana yang biasanya 1 kelas berisi 4-5 orang, akan hanya ada diriku dan guruku di dalam 1 kelas. Aku mengambil kelas privat karena aku dalam keadaan yang terburu-buru. Aku mengambil kelas les diakhir bulan Oktober, dan melakukan tes IELTS dibulan Desember. Hal tersebut harus kulakukan karena menyesuaikan waktu pendaftaran untuk kuliah di Australia yaitu bulan Januari. Sedangkan, setelah melakukan tes IELTS kita harus menunggu hasil selama 2 minggu. Itu juga kalau lulus, kalau tidak ya harus mengulang lagi.
Setelah mendaftarkan diri untuk mengikuti les persiapan IELTS, akhirnya akupun menjalankan kegiatan sehari-hariku dengan pulang-pergi Sidoarjo-Surabaya. Aku harus pandai-pandai mengatur waktu, karena aku juga harus melatih drumband dan dance. Hal tersebut awalnya sangat susah kulakukan, terkadang aku kelelahan hingga akhirnya sepulang les aku tidak bisa hadir untuk melatih drumband dan dance. Rasanya ingin kutinggalkan pekerjaan itu, tetapi aku merasa kasihan pada adik-adik yang kudidik. Tidak tega rasanya meninggalkan mereka. Akupun belajar mengatur waktu, setiap harinya aku hanya tidur 2-3 jam. Karena sehari-harinya aku harus membagi waktuku untuk mengajar dance, drumband, datang ke tempat les, belum lagi PR yang harus kukerjakan dari tempat les. Semuanya sangat membuatku lelah, aku harus menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Aku terus memupuk semangatku, karena aku ingat, banyak orang diluar sana yang telah mencemooh aku, menganggap bahwa impianku adalah hal yang mustahil. Bahkan papaku sendiri juga mencemooh aku. Menganggap bahwa aku tidak akan bisa kuliah di Australia. Papa berkata bahwa impianku terlalu tinggi. Terkadang orang tua sendiri memang bisa menghancurkan impian seorang anak. Semua caci maki yang kuterima dari orang-orang bahkan dari papaku sendiri kujadikan semangat. Aku tidak mau putus asa! Aku tidak mau menyerah! Sekalipun aku tahu bahwa ini memang melelahkan dan menyakitkan. 'TAK TUKU COCOD E WONG-WONG IKU' (Akan kubeli semua 'omongan' orang-orang). Kalimat itu selalu menjadi pelecut semangatku. Aku ingat, jika aku tidak lelah, maka aku sedang tidak berjuang. Aku lelah, karena aku sedang berjuang!
>>>Berlanjut di episode 2<<<
Mama adalah seseorang yang selalu mendoakan aku. Sekalipun aku tidak percaya bahkan mengaggap mustahil untuk berkuliah di luar negeri, mama selalu yakin bahwa aku bisa. Pernah suatu hari aku pulang dari pendakian di Gunung Pundak, tiba-tiba mama berkata,
"De, tadi mama sudah telponan sama Om Paul. Kamu jangan mendaki-mendaki lagi, jaga diri. Om Paul tadi telepon, kamu disuruh ambil tes IELTS dulu" kata mama.
Dede adalah nama panggilanku di rumah. Kata-kata mama itu sebenarnya membuatku sedih, karena aku tidak diijinkan untuk mendaki lagi. Namun, benakku berkata bahwa mama tidak akan melarang sesuatu yang aku sukai selama itu positif. Mama adalah orang yang benar-benar mengerti aku. Setelah mendengar berita itu, aku dan mama membahas segala persiapan agar aku bisa berangkat kuliah di Australia. Aku menyarankan menggunakan salah satu agen pendidikan yang ada di Indonesia di daerah Surabaya. Aku mengetahui agen itu karena selama aku menganggur, aku sering mengikuti seminar-seminar mengenai cara menempuh pendidikan di luar negeri. Aku benar-benar mandiri dalam mencari informasi walaupun sebenarnya aku masih memiliki keraguan. Temanku, Dannisa dan Dimas adalah teman-temanku yang sering memberikanku informasi mengenai seminar tersebut dan kita juga sering pergi bersama untuk menghadiri seminar-seminar yang ada di daerah Surabaya. Setelah aku dan mama membahas segala sesuatu yang diperlukan, keesokan harinya pun aku dan mama pergi menuju agen pendidikan tersebut bersama Mbak Ros dan suaminya. Mereka adalah tetangga yang dekat dengan mama. Mereka juga membantuku dalam kepengurusan segala sesuatu yang kuperlukan. Kami menemukan alamat agen pendidikan tersebut melalui internet. Perjalanan dari Sidoarjo menuju Surabaya kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Akhirnya kami pun menemukan lokasi agen pendidikan tersebut. Tak kusangka ternyata sesorang yang bertugas di agen tersebut adalah orang yang sama yang pernah kutemui saat mengikuti seminar. Dia adalah Koko Aldo atau biasa kupanggil Ko Aldo. Kami berbincang mengenai rencana studiku. Ko Aldo memberikan informasi mengenai data-data yang harus kupersiapkan dan salah satunya adalah sertifikat IELTS (International English Language Testing System) yang merupakan tes internasional dalam kemampuan bahasa inggris yang diselenggarakan oleh Universitas Cambridge, British Council dan IDP Educational Australia. Ko Aldo menyarankan aku untuk mengikuti persiapan IELTS terlebih dahulu. Ia menyarankan aku belajar di salah satu tempat les IELTS ternama yang ada di Surabaya. Setelah mengetahui informasi mengenai tempat les tersebut, beberapa hari kemudian aku mendaftarkan diri. Aku mengambil kelas privat dan lesku akan berlangsung setiap hari Senin sampai dengan Jumat, dimana yang biasanya 1 kelas berisi 4-5 orang, akan hanya ada diriku dan guruku di dalam 1 kelas. Aku mengambil kelas privat karena aku dalam keadaan yang terburu-buru. Aku mengambil kelas les diakhir bulan Oktober, dan melakukan tes IELTS dibulan Desember. Hal tersebut harus kulakukan karena menyesuaikan waktu pendaftaran untuk kuliah di Australia yaitu bulan Januari. Sedangkan, setelah melakukan tes IELTS kita harus menunggu hasil selama 2 minggu. Itu juga kalau lulus, kalau tidak ya harus mengulang lagi.
Setelah mendaftarkan diri untuk mengikuti les persiapan IELTS, akhirnya akupun menjalankan kegiatan sehari-hariku dengan pulang-pergi Sidoarjo-Surabaya. Aku harus pandai-pandai mengatur waktu, karena aku juga harus melatih drumband dan dance. Hal tersebut awalnya sangat susah kulakukan, terkadang aku kelelahan hingga akhirnya sepulang les aku tidak bisa hadir untuk melatih drumband dan dance. Rasanya ingin kutinggalkan pekerjaan itu, tetapi aku merasa kasihan pada adik-adik yang kudidik. Tidak tega rasanya meninggalkan mereka. Akupun belajar mengatur waktu, setiap harinya aku hanya tidur 2-3 jam. Karena sehari-harinya aku harus membagi waktuku untuk mengajar dance, drumband, datang ke tempat les, belum lagi PR yang harus kukerjakan dari tempat les. Semuanya sangat membuatku lelah, aku harus menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Aku terus memupuk semangatku, karena aku ingat, banyak orang diluar sana yang telah mencemooh aku, menganggap bahwa impianku adalah hal yang mustahil. Bahkan papaku sendiri juga mencemooh aku. Menganggap bahwa aku tidak akan bisa kuliah di Australia. Papa berkata bahwa impianku terlalu tinggi. Terkadang orang tua sendiri memang bisa menghancurkan impian seorang anak. Semua caci maki yang kuterima dari orang-orang bahkan dari papaku sendiri kujadikan semangat. Aku tidak mau putus asa! Aku tidak mau menyerah! Sekalipun aku tahu bahwa ini memang melelahkan dan menyakitkan. 'TAK TUKU COCOD E WONG-WONG IKU' (Akan kubeli semua 'omongan' orang-orang). Kalimat itu selalu menjadi pelecut semangatku. Aku ingat, jika aku tidak lelah, maka aku sedang tidak berjuang. Aku lelah, karena aku sedang berjuang!
>>>Berlanjut di episode 2<<<

Kurang greget, jek akeh kalimat seng di ulang2 nggarai seng moco bosen
BalasHapusJasik onok arek iki wkwk Iyo pak, lanjut nak eps 2 tak gae luweh frontal maneh lek ngono wkwk
Hapus