2018/05/24

Bukan Tempat Pelarian

Diriku yang pada saat itu mengalami sedikit stres karena berbagai macam masalah yang menimpaku, baik masalah keluarga maupun sekolah membuatku ingin mengakhiri hidupku. Jika kalian bertanya, "Seberat apa sih masalahmu?." Mungkin banyak orang menganggap sepele mengenai apa yang sedang dirasakan seseorang. Ketika kita mendengar keluh kesah orang lain, kita harus menempatkan diri kita pada keadaan seseorang tersebut, bukan dengan keadaan kita. Dengan menempatkan posisi diri kita sebagai seseorang yang memiliki masalah tersebut, maka kita akan jauh lebih mengerti dan setidaknya bisa membuat lega orang yang memiliki masalah tersebut. Ingat, mendengarlah untuk mengerti, bukan mendengar untuk menjawab.

"He rek, aku stress, ayo poo rek munggah gunung. Tiba-tiba aku kangen munggah gunung." (Woii, aku lagi stress nih, naik gunung yuk!) kataku mengajak teman-teman kelasku yang pernah mendaki bersama saat pertama kali pendakian ke Gunung Penanggungan. Pada mulanya aku memang sempat trauma karena berbagai rintangan yang aku alami saat pendakian pertamaku. Aku takut akan ketinggian, kedinginan, terjatuh, dan masih banyak lagi. Tetapi entah mengapa rasanya jiwaku terpanggil kembali untuk mendaki.
"Sepurane aku gaisok, Sabtu aku onok acara nak Jogja ambek keluarga," (Maaf aku nggak bisa, hari Sabtu aku ada acara ke Jogja sama keluarga) kata Gambreng
"Coba ajak en arek-arek iku lo, Dimas ta Deo ta sopo," (Coba ajak anak-anak yang lain, Dimas atau Deo atau siapa lah) lanjut Gambreng.
Setelah itu aku berjalan menghampiri teman-temanku yang sedang asik berkumpul sambil bersenda gurau. Aku pun menyela pembicaraan mereka,
"He rek, ayo munggah gunung poo rek. Kancanono aku, temenan iki aku wes stress, pengen ngerefresh otak," (Oii, ayo naik gunung yuk. Temenin aku, aku stress, aku pengen ngerefresh otak) kataku.
"Ayowes, sikilku yowes gatel pengen munggah. Aku yo kangen sisan. Aku lek ndaki budhal-budhal ae. Masio dewean yo budhal, tapi males," (Ayo, kakiku juga udah gatel pingin ndaki. Aku juga kangen. Aku kalau masalah mendaki ya berangkat-berangkat aja. Walaupun sendirian aku ya berangkat, tapi malas) jawab Deo.
"Ajak en arek-arek maneh sopo ngono paling ae gelem," (Ajak teman-teman yang lain, paling aja mereka juga mau ikut) lanjut Deo.
Setelah itu aku pergi menghampiri Dimas
 "Dim, ayo poo kancanono aku ndaki. Aku stress iki," (Dim, ayo temanin aku mendaki yuk. Aku stress nih) ajakku kepada Dimas.
"Ayowes, budhal!," (Ayo, berangkat!) jawab Dimas semangat.
"Ape nandi rek?" (Mau kemana?) tiba-tiba Rosman menyela
"Penanggungan, ayo melok" (Penanggungan, ayo ikut) jawabku
"Aku melok, tapi aku nyusul Minggu e. Aku budhal jam 4 pagi tekan pos perijinan, engkok ketemuan nak Puncak" (Aku iku, tapi aku nyusul hari Minggu-nya. Aku berangkat jam 4 pagi dari pos perijinan, terus nanti kita ketemuan di puncak) jelas Rosman.
Akupun mencoba mengajak mendaki teman-temanku yang lainnya. Namun mereka semua berhalangan untuk pergi dengan alasan mereka masing-masing. Terpaksa aku hanya mendaki dengan 2 teman laki-lakiku yaitu Deo dan Dimas. Kami merencanakan hari serta jam keberangkatan menuju pos pendakian. Gunung Penanggungan menjadi pilihan kami, maka ini adalah pendakian kedua kalinya di Gunung Penanggungan. Kami memutuskan berangkat pada hari Sabtu, 18 Februari 2017 sampai dengan 19 Februari 2017.


............


Hari Sabtu pun tiba, aku menunggu Dimas dan Deo menuju rumahku dimana rumahku sebagai titik kumpul. Kami merencanakan berkumpul pada pukul 12.00, namun nyatanya mereka tidak kunjung datang. Aku yang pada saat itu tidak memiliki HP pun hanya bisa berkomunikasi melalui instagram menggunakan HP mamaku.
"Drrrrrtttt drrrrttttt" suara hp bergetar.
Akupun mengambil HP mamaku dan mengecek akun Instagram. Rupanya Deo berkomentar disalah satu postinganku dengan menuliskan pesan "Ojok lali, maringene aku budhal. Sido," (Jangan lupa, habis gini aku berangkat. Jadi!) tulis Deo. Kata 'Sido atau Jadi' kami gunakan sebagai kode bahwa kami tetap melanjutkan perjalanan. Karena biasanya ekspektasi tidak sesuai realita. Terkadang kita sudah merencanakan sesuatu bersama teman-teman jauh-jauh hari, tetapi saat hari H hasilnya nihil atau bisa dibilang tidak ada yang berangkat.

Aku menunggu dari pukul 12 siang sampai pukul 2 dan mereka tidak kunjung datang. Aku sedikit khawatir karena bisa saja tiba-tiba papaku mengubah pikirannya untuk tidak mengijinkan aku mendaki karena pada saat itu adalah musim hujan. Hatiku terus berdebar-debar dan tidak sabar menunggu mereka. Hingga pada akhirnya, pukul 3 sore terdengar suara sepeda motor  di depan rumah. Kulihat melalui jendela kamar ternyata Deo dan Dimas telah tiba di rumahku.
"He jancik suwene kon rek" (He yaampun, lamanya kalian) kataku.
"Ikilo aku ngenteni Deo" (Inilo aku nungguin Deo) sahut Dimas.
"Lapo maneh Deo iki?"(Kenapa Deo?) kataku.
"Aku maeng ngenteni ibukku. La aku takok sandal gunungku nak ibukku, ibukku lali lek sandalku jek disol no nak tukang sol, gorong dijupuk. Jek ket iki maeng dijupuk" (Aku nungguin mamaku dulu. Waktu aku tanya dimana sandal gunungku, ternyata ibuku lupa kalau sandal gunungku masih ditukang sol sepatu, belum diambil. Ini tadi baru diambil) jelas Deo.
Sebenarnya kami berencana untuk packing ulang isi tas gunung kami di rumahku. Tapi aku menyarankan untuk packing ulang di depan halaman sekolah. Karena aku takut papaku berubah pikiran dan tidak mengijinkan aku mendaki. Suasana langit sedikit gelap pada saat itu yang bisa menandakan akan turun hujan. Akhirnya aku dan teman-teman pun pamit ke mama dan papaku dan kami berangkat menuju ke sekolah kami untuk packing ulang.

Setibanya di halaman depan sekolah, kami membongkar isi tas kami dan memulai untuk packing ulang. Packing ulang ini bertujuan untuk mempermudah saat kita mencari barang-barang yang kita butuhkan karena kita menyesuaikan dengan kategori dan menyusun tatanan barang sesuai dengan kepentingannya. Seperti, kita meletakkan jas hujan di bagian atas agar mudah mengambil jas hujan saat perjalanan dan tidak perlu membongkar isi seluruh tas.
"Wes mari a rek packing e?" (Sudah selesai packing-nya?) tanya Deo.
"Wes, ayowes budhal!" (Sudah, ayo berangkat!) jawab Dimas dengan semangat.
Akhirnya pun kami berangkat, aku dibonceng Dimas dan Deo menjomblo dengan sepeda motornya HAHAHA.
"Asiiikk ndaki maneh!! Ndaki maneh!!" (Asiik ndaki lagi!! Ndaki lagi!!) kataku dengan semangat saat dibonceng Dimas menuju ke pos perijinan Pos Penanggungan.
Setelah 2 jam lebih perjalanan, kami pun akirnya sampai di pos perijinan Gunung Penanggungan. Segala persiapan mulai dari mengecek kelengkapan dan berdoa lalu dilanjutkan perjalanan menuju Puncak Bayangan.
"Santai ae yo rek, ambek menikmati" (Santai aja ya, sambil menikmati (pemandangan)) kata Deo.
"Iyo, ojok banter-banter rek. Suwe gak ndaki, butuh pemanasan sek" (Iya, jangan cepet-cepet. Sudah lama nggak mendaki,  butuh pemanasan dulu) jawabku.
Perjalanan begitu terasa sunyi dan sepi karena hanya kami bertiga pada saat itu. Diriku yang berada di gunung pada saat itu merasa lebih baik, sejenak melupakan masalah-masalah yang kumiliki. Udara-udara di atas memang lebih segar dibandingkan udara di bawah. Karena udara di bawah telah tercemari dan bercampur dengan nafas-nafas orang munafik.
"He sek, aku ape njupuk biskuitku, luwe" (He sebentar, aku mau mengambil biskuitku, aku lapar) sela Dimas di tengah-tengah perjalanan kami. Kami pun melakukan perjalanan sembari menikmati biskuit. Pendakian kali ini sedikit berbeda dibandingkan dengan pendakian pertama kami sebelumnya. Kami sedikit lebih siap, baik dalam mempersiapkan logistik maupun segala kemungkinan yang akan terjadi. Pendakian sebelumnya, kami kekurangan air sedangkan di Gunung Penanggungan tidak terdapat sumber air. Hingga pada saat itu kami harus menggunakan air dengan bijak, tidak membuang-buangnya. Dari pendakian pertamaku di Gunung Penanggungan, aku belajar betapa berharganya setetes air yang dapat menyelamatkan nyawa. Diriku yang dulu suka membuang-buang air minum hanya karena alasan 'kenyang air' sekarang jauh lebih menghargai air. Terkadang kita suka menyepelekan sesuatu karena kita mengira sesuatu itu akan selalu ada. Tetapi, ketika sesuatu itu hilang dan kita tahu bahwa ia tidak akan kembali, kita baru merasa bahwa sesuatu tersebut sangatlah berharga. Setapak demi setapak kami lewati, bebatuan dan tanjakan kami lalui dengan penuh kesabaran. Menikmati proses ternyata sangatlah menyenangkan jika kita bisa mensyukuri segala keadaan yang kita miliki, baik itu susah maupun senang, selama ada kawan disebelah kita, semuanya pasti akan terlalui.

Tak terasa, kami pun telah sampai di Puncak Bayangan. Kami pun mendirikan tenda bersama-sama. Setelah selesai mendirikan tenda, kami pun masuk ke dalam tenda dan mengeluarkan semua barang-barang yang terdapat di dalam tas kita dan merapikannya. Karena perjalanan yang melelahkan, kami pun merasa lapar. Deo pun merogoh-rogoh tasnya dan ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong plastik.
"Opo iku yo?" (Apa itu yo?) tanya Dimas.
Deo pun membuka sesuatu itu dan ternyata itu adalah tempat makan yang berisi nasi dan ikan brengkesan.
"Wiihhh mantap" kata Dimas.
Kami bertiga pun menikmati nasi dan ikan brengkesan tersebut dan makan menggunakan tangan walaupun sebenarnya tangan kami sangatlah kotor. Kami tidak peduli, bertahan hidup di alam harus berani kotor. Penyakit? Kami yakin Tuhan selalu melindungi umat-umatnya. Tuhan pun juga pasti merasa senang kepada manusia yang selalu ingin belajar. Mendaki gunung bukan masalah menggapai puncak dan berfoto-foto ria, mendaki gunung adalah cara kita untuk mempelajari segala sesuatu yang diajarkan Tuhan melalui kejadian-kejadian alam yang harus kita pahami dan maknai. Rasanya sangat percuma jika kita mendaki gunung hanya untuk bersenang-senang tanpa mengetahui makna dari isi sebuah pendakian.

Setelah menyantap nasi dan ikan brengkesan, kami pun keluar dari tenda dan menikmati suasana gunung pada kala itu. Bintang-bintang dan sinarnya menghiasi langit, tak lupa lampu-lampu perkotaan yang menambah keindahan pemandangan dari ketinggian. Seduhan coklat panas dan biskuit juga menemani kala itu. Rasanya sangatlah lezat, ditambah lagi dinikmati bersama teman-teman di gunung. Setelah puas menikmati pemandangan dan menyantap makanan, kami pun mulai mengantuk, akhirnya kami pun tidur dan memutuskan untuk bangun pukul 5 pagi esoknya untuk melanjutkan ke Puncak Gunung Penanggungan.


............


Pukul 5 pagi pun kami bangun dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Setelah semua perlengkapan siap, kami pun berangkat menuju ke Puncak Gunung Penanggungan. Tak lupa kami membawa senter untuk penerangan dan jaket untuk melindungi diri kita dari dinginnya suhu. Perjalanan menuju puncak kami lakukan dengan hati-hati karena langit masih gelap dan sumber penerangan kita hanyalah senter. Kita tahu bahwa banyak batu yang mungkin dapat menggelinding ke bawah karena tidak semua batu melekat erat dengan tanah. Kita harus berhati-hati dalam memilih pijakan. Sesekali kami berhenti untuk menarik nafas dan minum dan melanjutkan perjalanan lagi.
"He, Rosman iku engkok sido nyusul a?" (He, Rosman nanti jadi nyusul?) tanyaku.
"Emboh, jarene dee engkok nyusul ambek konco e" (Gatau, tapi katanya dia nanti nyusul bareng temennya" jawab Dimas.
Matahari mulai menampakkan dirinya. Cahayanya perlahan muncul dan menerangi perjalanan kami. Namun kami belum juga sampai di Puncak Gunung Penanggungan.
"He ayo rek, sitik maneh" (He ayo, tinggal dikit lagi) kataku.
30 menit setelah itu, kami telah sampai di Puncak Gunung Penanggungan. Kami pun duduk-duduk sambil menikmati pemandangan, bertemu dengan pendaki-pendaki lain, dan membahas apakah Rosman jadi menyusul atau tidak. Sambil menunggu Rosman, kami pun membuat video dan berfoto-foto. Kita telah menunggu selama 1 jam lebih dan Rosman tidak kunjung datang. Akhirnya kita bertiga pun memutuskan untuk kembali ke Puncak Bayangan. Saat kita akan kembali ke Puncak Bayangan, tiba-tiba Rosman datang bersama teman wanitanya, Meta, menyapa kita,
"Ape nandi kon rek?" (Kalian mau kemana?) kata Rosman
Secara spontan aku dan Dimas pun berkata "Laa iki arek e..." (Loh, ini ada anaknya). 
Akhirnya kami pun menunda untuk kembali ke Puncak Bayangan tempat dimana tenda kami berada. Sejenak kami berbicara bersama-sama, bersenda gurau dan menikmati sejuknya udara gunung. Dari situ entah mengapa aku merasa seperti jutaan sel di otakku telah diperbarui. Aku merasa sangat stres saat di kota, tetapi ketika aku di gunung, rasanya semua masalahku telah hilang. Gunung bukanlah tempat pelarian saat kita memiliki masalah. Namun gunung itu layaknya seorang ibu, dimana ia secara tidak langusng dapat memberikan solusi terbaik untuk setiap masalah melalui keadaan-keadaan alam yang ia miliki. Gunung mengajarkanku apa arti kehidupan sebenarnya, bagaiman kita mendekatkan diri pada Tuhan, apa arti persahabatan sebenarnya, mengajarkan untuk selalu menghargai segala sesuatu yang ada di sekeliling kita walau sekecil apapun itu, dan masih banyak lagi. Ketika aku berada di puncak, aku merasa betapa kecilnya diriku dihadapan Sang Kuasa. Belajar untuk merendahkan angkuh. Kita hanyalah manusia yang terbuat dari tanah, lahir di tanah, makan dari tanah, dan akan kembali pada tanah. Lalu, buat apa kita bersifat langit?. Isi pendakian benar-benar mengajarkanku banyak hal, aku jauh lebih muda peka terhadap lingkungan sekitarku. Sejuta kata pun tidak akan mampu mengungkapkan apa keistimewaan dari pendakian. Gunung adalah bungkus, pendakian adalah isinya. Bungkus harus dirawat agar dapat melindungi isinya, dan isinya adalah pembelajarannya.

Setelah itu, kami berlima pun turun menuju Puncak Bayangan. Kami mengistirahatkan tubuh kami sejenak sembari menikmati mie goreng. Setelah semuanya selesai, kami pun membereskan tenda dan peralatan kami dan melanjutkan perjalan menuju ke pos perijinan. Sesampainya di Pos Perijinan Gunung Penanggungan, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang. Namun, Rosman dan Meta memisahkan diri dari aku, Dimas, dan Deo. Karena Rosman memiliki acara lain bersama temannya. Hanya tersisa aku, Dimas dan Deo. Di tengah perjalanan, ternyata hujan turun. Kami bersyukur, karena tidak ada hujan disaat perjalanan turun dari gunung ke pos perijinan. Jika hal itu terjadi, jalanan akan menjadi licin dan tentunya akan lebih beresiko. Namun, kami tidak menghentikan perjalanan karena menurut kami tanggung untuk berhenti. Jadi kami tetap melanjutkan perjalanan pulang walaupun hujan mengguyur tubuh kami.

Gunung Penanggungan 1653 mdpl
18-19 Februari 2017


Foto-foto kami saat di Gunung Penanggungan
Perjalanan menuju Puncak Bayangan ( Deo, Dimas )

Perjalanan menuju Puncak Bayangan ( Deo, Dini )

Tas Karier yang kami gunakan

Tenda penuh dengan makanan wkwk


Tenda ( Dimas )
Puncak Bayangan ( Dini )


Puncak Bayangan ( Dimas, Rosman )

Foto sebelum perjalanan turun di Puncak Bayangan ( Deo, Dini, Rosman, Dimas )




Tidak ada komentar:

Posting Komentar