2018/05/25

Perjalanan Menggapai Mimpi (Eps. 1)


Pada awalnya, setelah lulus SMA aku berencana mendaftarkan diri sebagai seorang taruni Akademi Angkatan Laut (AAL). Niatku tersebut harus pupus diawal karena aku memiliki masalah kesehatan dan dibutuhkan waktu minimal 3 bulan untuk menyembuhkannya. Setelah mengetahui aku gagal, aku tidak sedih, hanya saja aku bingung kemanakah arah masa depanku selanjutnya. Aku memang lulus SNMPTN dari sekolahku, tetapi setelah itu aku mendapatkan kegagalan lagi. Parahnya, aku mengetahui berita kegagalanku dalam SNMPTN itu saat aku sedang melaksanakan acara perpisahan SMA di Bali. 4 orang temanku ingin menangis karena hal itu. Aku? Tidak! Aku yakin bahwa Tuhan memiliki rencana yang indah walaupun sebenarnya aku bingung harus kemana. Aku berniat untuk mendaftarkan diri tes SBMPTN di universitas negeri yang ada di Indonesia. Tetapi mama tidak mengijinkan. Mama justru berkata, "Yasudah, kamu berangkat kuliah ke Australia". Jujur, setelah mama berkata seperti itu aku tidaklah senang, karena aku takut bahwa itu hanyalah sebuah perkataan tanpa kenyataan. Aku masih merasa bahwa hal itu adalah hal yang mustahil, bisa berangkat kuliah di luar negeri. Walaupun sebenarnya kuliah di luar negeri khususnya di Australia adalah impianku sejak aku duduk dibangku SD. Semua orang menganggap bahwa aku tidak mungkin bisa berkuliah di luar negeri, hal itu membuatku semakin pesimis. Ditambah lagi banyaknya masalah yang ada padaku, salah satunya adalah masalah keluarga. Semua teman-temanku sibuk mendaftarkan diri mereka untuk mengikuti tes SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri). Sedangkan aku? Hanya duduk diam di rumah dan bersantai walaupun sebenarnya sedih. Aku hanya takut, harus kemanakah aku setelah lulus SMA ini? Menjadi seorang pengangguran dan tidak memiliki arah tujuan yang jelas.

Hari demi hari setelah kelulusan SMA kulewati. Tanpa disangka, aku menerima tawaran pekerjaan untuk menjadi pelatih drumband di salah satu SMP yang ada di Sidoarjo. Aku menerima tawaran tersebut karena guru-guru yang ada di sekolah itu mengenal aku dan mengetahui bahwa aku dulu adalah seorang Gita Pati dari tim drumband SMA ku. Aku pun menerima tawaran itu, akupun mengajak 2 temanku, Ivan dan Hazuma karena mereka sendiri juga menganggur pada saat itu untuk menunggu pendaftaran TNI-AL di tahun 2018. Akhirnya kami pun bekerja sama untuk melatih drumband di SMP tersebut. Tak lama setelah itu, aku menerima tawaran untuk melatih dance di SMA ku sendiri. Wakasek kesiswaanku menghubungi aku melalui line. Beliau memintaku untuk melatih adek-adek kelasku dance untuk ditampilkan di HUT Yayasan Hang Tuah. Aku pun menerima tawaran itu. Setidaknya, aku tidak benar-benar menganggur setelah kelulusan SMA ku. Aku masih beraktivitas tidak hanya mengajar drumband dan dance, terkadang adek-adek kelasku datang ke rumahku untuk meminta bantuan menjelaskan tentang suatu mata pelajaran yang belum mereka mengerti, seperti Fisika, Kimia, dan lainnya. Rasanya aku benar-benar bersyukur, Tuhan sangat baik kepadaku. Tuhan tidak pernah mempermalukan aku. Disaat teman-teman seangkatanku telah diterima di perguruan tinggi negeri maupun swasta, Tuhan tidak membiarkan aku berdiam diri. Terkadang, disela-sela kesibukanku tersebut, aku juga pergi mendaki. Hobiku mendaki menjadi salah satu alternatif untuk memperbaiki diri dan belajar, sekaligus mengisi waktu luang.

Selama 5 bulan lebih aku menjalankan aktivitas seperti itu. Banyak orang yang men-judge aku karena mereka menganggap aku tidak memiliki masa depan hanya karena aku tidak kuliah di universitas. Aku hanya menjalankan aktivitasku sebagai seorang pekerja part-time dan menjalankan hobiku yaitu mendaki. Banyak orang yang men-judge hobiku sebagai seorang pendaki. Mereka menganggap mendaki adalah sesuatu yang buruk karena aku adalah seorang wanita dan teman-teman pendakianku rata-rata adalah anak laki-laki. Banyak yang menganggap bahwa aku hanya bersenang-senang dengan hobiku mendaki dan mereka mengira bahwa aku tidak memikirkan masa depanku. Segala sesuatu yang berhubungan dengan pendakian selalu dianggap jelek dimata mereka. Aku hanya diam dan tertawa. Mereka tidak tahu makna dan pembelajaran apa yang kudapat dari pendakian. Justru dari pendakian aku belajar banyak hal. Setiap pendakian selalu memiliki pembelajarannya masing-masing. Karena itu, jika kalian bertanya mengapa aku mendaki, maka akan sangat susah untuk aku jelaskan, karena akan kuberikan jawaban yang berbeda-beda.  Pendakian benar-benar mendewasakan aku. Kita tahu, tua itu pasti, tapi dewasa itu adalah pilihan. Orang yang sudah berumur tua terkadang masih tidak bisa mendewasakan pikiran. Orang yang berumur lebih muda dari kita pun terkadang sudah dapat berpikir dewasa. Oleh karena itu, dewasa tidak bergantung pada umur, tapi pada karakteristik kita.

Mama adalah seseorang yang selalu mendoakan aku. Sekalipun aku tidak percaya bahkan mengaggap mustahil untuk berkuliah di luar negeri, mama selalu yakin bahwa aku bisa. Pernah suatu hari aku pulang dari pendakian di Gunung Pundak, tiba-tiba mama berkata,
"De, tadi mama sudah telponan sama Om Paul. Kamu jangan mendaki-mendaki lagi, jaga diri. Om Paul tadi telepon, kamu disuruh ambil tes IELTS dulu" kata mama.
Dede adalah nama panggilanku di rumah. Kata-kata mama itu sebenarnya membuatku sedih, karena aku tidak diijinkan untuk mendaki lagi. Namun, benakku berkata bahwa mama tidak akan melarang sesuatu yang aku sukai selama itu positif. Mama adalah orang yang benar-benar mengerti aku. Setelah mendengar berita itu, aku dan mama membahas segala persiapan agar aku bisa berangkat kuliah di Australia. Aku menyarankan menggunakan salah satu agen pendidikan yang ada di Indonesia di daerah Surabaya. Aku mengetahui agen itu karena selama aku menganggur, aku sering mengikuti seminar-seminar mengenai cara menempuh pendidikan di luar negeri. Aku benar-benar mandiri dalam mencari informasi walaupun sebenarnya aku masih memiliki keraguan. Temanku, Dannisa dan Dimas adalah teman-temanku yang sering memberikanku informasi mengenai seminar tersebut dan kita juga sering pergi bersama untuk menghadiri seminar-seminar yang ada di daerah Surabaya. Setelah aku dan mama membahas segala sesuatu yang diperlukan, keesokan harinya pun aku dan mama pergi menuju agen pendidikan tersebut bersama Mbak Ros dan suaminya. Mereka adalah tetangga yang dekat dengan mama. Mereka juga membantuku dalam kepengurusan segala sesuatu yang kuperlukan. Kami menemukan alamat agen pendidikan tersebut melalui internet. Perjalanan dari Sidoarjo menuju Surabaya kami tempuh selama kurang lebih 3 jam. Akhirnya kami pun menemukan lokasi agen pendidikan tersebut. Tak kusangka ternyata sesorang yang bertugas di agen tersebut adalah orang yang sama yang pernah kutemui saat mengikuti seminar. Dia adalah Koko Aldo atau biasa kupanggil Ko Aldo. Kami berbincang mengenai rencana studiku. Ko Aldo memberikan informasi mengenai data-data yang harus kupersiapkan dan salah satunya adalah sertifikat IELTS (International English Language Testing System) yang merupakan tes internasional dalam kemampuan bahasa inggris yang diselenggarakan oleh Universitas Cambridge, British Council dan IDP Educational Australia. Ko Aldo menyarankan aku untuk mengikuti persiapan IELTS terlebih dahulu. Ia menyarankan aku belajar di salah satu tempat les IELTS ternama yang ada di Surabaya. Setelah mengetahui informasi mengenai tempat les tersebut, beberapa hari kemudian aku mendaftarkan diri. Aku mengambil kelas privat dan lesku akan berlangsung setiap hari Senin sampai dengan Jumat, dimana yang biasanya 1 kelas berisi 4-5 orang, akan hanya ada diriku dan guruku di dalam 1 kelas. Aku mengambil kelas privat karena aku dalam keadaan yang terburu-buru. Aku mengambil kelas les diakhir bulan Oktober, dan melakukan tes IELTS dibulan Desember. Hal tersebut harus kulakukan karena menyesuaikan waktu pendaftaran untuk kuliah di Australia yaitu bulan Januari. Sedangkan, setelah melakukan tes IELTS kita harus menunggu hasil selama 2 minggu. Itu juga kalau lulus, kalau tidak ya harus mengulang lagi.

Setelah mendaftarkan diri untuk mengikuti les persiapan IELTS, akhirnya akupun menjalankan kegiatan sehari-hariku dengan pulang-pergi Sidoarjo-Surabaya. Aku harus pandai-pandai mengatur waktu, karena aku juga harus melatih drumband dan dance. Hal tersebut awalnya sangat susah kulakukan, terkadang aku kelelahan hingga akhirnya sepulang les aku tidak bisa hadir untuk melatih drumband dan dance. Rasanya ingin kutinggalkan pekerjaan itu, tetapi aku merasa kasihan pada adik-adik yang kudidik. Tidak tega rasanya meninggalkan mereka. Akupun belajar mengatur waktu, setiap harinya aku hanya tidur 2-3 jam. Karena sehari-harinya aku harus membagi waktuku untuk mengajar dance, drumband, datang ke tempat les, belum lagi PR yang harus kukerjakan dari tempat les. Semuanya sangat membuatku lelah, aku harus menjaga kesehatan agar tidak jatuh sakit. Aku terus memupuk semangatku, karena aku ingat, banyak orang diluar sana yang telah mencemooh aku, menganggap bahwa impianku adalah hal yang mustahil. Bahkan papaku sendiri juga mencemooh aku. Menganggap bahwa aku tidak akan bisa kuliah di Australia. Papa berkata bahwa impianku terlalu tinggi. Terkadang orang tua sendiri memang bisa menghancurkan impian seorang anak. Semua caci maki yang kuterima dari orang-orang bahkan dari papaku sendiri kujadikan semangat. Aku tidak mau putus asa! Aku tidak mau menyerah! Sekalipun aku tahu bahwa ini memang melelahkan dan menyakitkan. 'TAK TUKU COCOD E WONG-WONG IKU' (Akan kubeli semua 'omongan' orang-orang). Kalimat itu selalu menjadi pelecut semangatku. Aku ingat, jika aku tidak lelah, maka aku sedang tidak berjuang. Aku lelah, karena aku sedang berjuang!


>>>Berlanjut di episode 2<<<

2018/05/24

Bukan Tempat Pelarian

Diriku yang pada saat itu mengalami sedikit stres karena berbagai macam masalah yang menimpaku, baik masalah keluarga maupun sekolah membuatku ingin mengakhiri hidupku. Jika kalian bertanya, "Seberat apa sih masalahmu?." Mungkin banyak orang menganggap sepele mengenai apa yang sedang dirasakan seseorang. Ketika kita mendengar keluh kesah orang lain, kita harus menempatkan diri kita pada keadaan seseorang tersebut, bukan dengan keadaan kita. Dengan menempatkan posisi diri kita sebagai seseorang yang memiliki masalah tersebut, maka kita akan jauh lebih mengerti dan setidaknya bisa membuat lega orang yang memiliki masalah tersebut. Ingat, mendengarlah untuk mengerti, bukan mendengar untuk menjawab.

"He rek, aku stress, ayo poo rek munggah gunung. Tiba-tiba aku kangen munggah gunung." (Woii, aku lagi stress nih, naik gunung yuk!) kataku mengajak teman-teman kelasku yang pernah mendaki bersama saat pertama kali pendakian ke Gunung Penanggungan. Pada mulanya aku memang sempat trauma karena berbagai rintangan yang aku alami saat pendakian pertamaku. Aku takut akan ketinggian, kedinginan, terjatuh, dan masih banyak lagi. Tetapi entah mengapa rasanya jiwaku terpanggil kembali untuk mendaki.
"Sepurane aku gaisok, Sabtu aku onok acara nak Jogja ambek keluarga," (Maaf aku nggak bisa, hari Sabtu aku ada acara ke Jogja sama keluarga) kata Gambreng
"Coba ajak en arek-arek iku lo, Dimas ta Deo ta sopo," (Coba ajak anak-anak yang lain, Dimas atau Deo atau siapa lah) lanjut Gambreng.
Setelah itu aku berjalan menghampiri teman-temanku yang sedang asik berkumpul sambil bersenda gurau. Aku pun menyela pembicaraan mereka,
"He rek, ayo munggah gunung poo rek. Kancanono aku, temenan iki aku wes stress, pengen ngerefresh otak," (Oii, ayo naik gunung yuk. Temenin aku, aku stress, aku pengen ngerefresh otak) kataku.
"Ayowes, sikilku yowes gatel pengen munggah. Aku yo kangen sisan. Aku lek ndaki budhal-budhal ae. Masio dewean yo budhal, tapi males," (Ayo, kakiku juga udah gatel pingin ndaki. Aku juga kangen. Aku kalau masalah mendaki ya berangkat-berangkat aja. Walaupun sendirian aku ya berangkat, tapi malas) jawab Deo.
"Ajak en arek-arek maneh sopo ngono paling ae gelem," (Ajak teman-teman yang lain, paling aja mereka juga mau ikut) lanjut Deo.
Setelah itu aku pergi menghampiri Dimas
 "Dim, ayo poo kancanono aku ndaki. Aku stress iki," (Dim, ayo temanin aku mendaki yuk. Aku stress nih) ajakku kepada Dimas.
"Ayowes, budhal!," (Ayo, berangkat!) jawab Dimas semangat.
"Ape nandi rek?" (Mau kemana?) tiba-tiba Rosman menyela
"Penanggungan, ayo melok" (Penanggungan, ayo ikut) jawabku
"Aku melok, tapi aku nyusul Minggu e. Aku budhal jam 4 pagi tekan pos perijinan, engkok ketemuan nak Puncak" (Aku iku, tapi aku nyusul hari Minggu-nya. Aku berangkat jam 4 pagi dari pos perijinan, terus nanti kita ketemuan di puncak) jelas Rosman.
Akupun mencoba mengajak mendaki teman-temanku yang lainnya. Namun mereka semua berhalangan untuk pergi dengan alasan mereka masing-masing. Terpaksa aku hanya mendaki dengan 2 teman laki-lakiku yaitu Deo dan Dimas. Kami merencanakan hari serta jam keberangkatan menuju pos pendakian. Gunung Penanggungan menjadi pilihan kami, maka ini adalah pendakian kedua kalinya di Gunung Penanggungan. Kami memutuskan berangkat pada hari Sabtu, 18 Februari 2017 sampai dengan 19 Februari 2017.


............


Hari Sabtu pun tiba, aku menunggu Dimas dan Deo menuju rumahku dimana rumahku sebagai titik kumpul. Kami merencanakan berkumpul pada pukul 12.00, namun nyatanya mereka tidak kunjung datang. Aku yang pada saat itu tidak memiliki HP pun hanya bisa berkomunikasi melalui instagram menggunakan HP mamaku.
"Drrrrrtttt drrrrttttt" suara hp bergetar.
Akupun mengambil HP mamaku dan mengecek akun Instagram. Rupanya Deo berkomentar disalah satu postinganku dengan menuliskan pesan "Ojok lali, maringene aku budhal. Sido," (Jangan lupa, habis gini aku berangkat. Jadi!) tulis Deo. Kata 'Sido atau Jadi' kami gunakan sebagai kode bahwa kami tetap melanjutkan perjalanan. Karena biasanya ekspektasi tidak sesuai realita. Terkadang kita sudah merencanakan sesuatu bersama teman-teman jauh-jauh hari, tetapi saat hari H hasilnya nihil atau bisa dibilang tidak ada yang berangkat.

Aku menunggu dari pukul 12 siang sampai pukul 2 dan mereka tidak kunjung datang. Aku sedikit khawatir karena bisa saja tiba-tiba papaku mengubah pikirannya untuk tidak mengijinkan aku mendaki karena pada saat itu adalah musim hujan. Hatiku terus berdebar-debar dan tidak sabar menunggu mereka. Hingga pada akhirnya, pukul 3 sore terdengar suara sepeda motor  di depan rumah. Kulihat melalui jendela kamar ternyata Deo dan Dimas telah tiba di rumahku.
"He jancik suwene kon rek" (He yaampun, lamanya kalian) kataku.
"Ikilo aku ngenteni Deo" (Inilo aku nungguin Deo) sahut Dimas.
"Lapo maneh Deo iki?"(Kenapa Deo?) kataku.
"Aku maeng ngenteni ibukku. La aku takok sandal gunungku nak ibukku, ibukku lali lek sandalku jek disol no nak tukang sol, gorong dijupuk. Jek ket iki maeng dijupuk" (Aku nungguin mamaku dulu. Waktu aku tanya dimana sandal gunungku, ternyata ibuku lupa kalau sandal gunungku masih ditukang sol sepatu, belum diambil. Ini tadi baru diambil) jelas Deo.
Sebenarnya kami berencana untuk packing ulang isi tas gunung kami di rumahku. Tapi aku menyarankan untuk packing ulang di depan halaman sekolah. Karena aku takut papaku berubah pikiran dan tidak mengijinkan aku mendaki. Suasana langit sedikit gelap pada saat itu yang bisa menandakan akan turun hujan. Akhirnya aku dan teman-teman pun pamit ke mama dan papaku dan kami berangkat menuju ke sekolah kami untuk packing ulang.

Setibanya di halaman depan sekolah, kami membongkar isi tas kami dan memulai untuk packing ulang. Packing ulang ini bertujuan untuk mempermudah saat kita mencari barang-barang yang kita butuhkan karena kita menyesuaikan dengan kategori dan menyusun tatanan barang sesuai dengan kepentingannya. Seperti, kita meletakkan jas hujan di bagian atas agar mudah mengambil jas hujan saat perjalanan dan tidak perlu membongkar isi seluruh tas.
"Wes mari a rek packing e?" (Sudah selesai packing-nya?) tanya Deo.
"Wes, ayowes budhal!" (Sudah, ayo berangkat!) jawab Dimas dengan semangat.
Akhirnya pun kami berangkat, aku dibonceng Dimas dan Deo menjomblo dengan sepeda motornya HAHAHA.
"Asiiikk ndaki maneh!! Ndaki maneh!!" (Asiik ndaki lagi!! Ndaki lagi!!) kataku dengan semangat saat dibonceng Dimas menuju ke pos perijinan Pos Penanggungan.
Setelah 2 jam lebih perjalanan, kami pun akirnya sampai di pos perijinan Gunung Penanggungan. Segala persiapan mulai dari mengecek kelengkapan dan berdoa lalu dilanjutkan perjalanan menuju Puncak Bayangan.
"Santai ae yo rek, ambek menikmati" (Santai aja ya, sambil menikmati (pemandangan)) kata Deo.
"Iyo, ojok banter-banter rek. Suwe gak ndaki, butuh pemanasan sek" (Iya, jangan cepet-cepet. Sudah lama nggak mendaki,  butuh pemanasan dulu) jawabku.
Perjalanan begitu terasa sunyi dan sepi karena hanya kami bertiga pada saat itu. Diriku yang berada di gunung pada saat itu merasa lebih baik, sejenak melupakan masalah-masalah yang kumiliki. Udara-udara di atas memang lebih segar dibandingkan udara di bawah. Karena udara di bawah telah tercemari dan bercampur dengan nafas-nafas orang munafik.
"He sek, aku ape njupuk biskuitku, luwe" (He sebentar, aku mau mengambil biskuitku, aku lapar) sela Dimas di tengah-tengah perjalanan kami. Kami pun melakukan perjalanan sembari menikmati biskuit. Pendakian kali ini sedikit berbeda dibandingkan dengan pendakian pertama kami sebelumnya. Kami sedikit lebih siap, baik dalam mempersiapkan logistik maupun segala kemungkinan yang akan terjadi. Pendakian sebelumnya, kami kekurangan air sedangkan di Gunung Penanggungan tidak terdapat sumber air. Hingga pada saat itu kami harus menggunakan air dengan bijak, tidak membuang-buangnya. Dari pendakian pertamaku di Gunung Penanggungan, aku belajar betapa berharganya setetes air yang dapat menyelamatkan nyawa. Diriku yang dulu suka membuang-buang air minum hanya karena alasan 'kenyang air' sekarang jauh lebih menghargai air. Terkadang kita suka menyepelekan sesuatu karena kita mengira sesuatu itu akan selalu ada. Tetapi, ketika sesuatu itu hilang dan kita tahu bahwa ia tidak akan kembali, kita baru merasa bahwa sesuatu tersebut sangatlah berharga. Setapak demi setapak kami lewati, bebatuan dan tanjakan kami lalui dengan penuh kesabaran. Menikmati proses ternyata sangatlah menyenangkan jika kita bisa mensyukuri segala keadaan yang kita miliki, baik itu susah maupun senang, selama ada kawan disebelah kita, semuanya pasti akan terlalui.

Tak terasa, kami pun telah sampai di Puncak Bayangan. Kami pun mendirikan tenda bersama-sama. Setelah selesai mendirikan tenda, kami pun masuk ke dalam tenda dan mengeluarkan semua barang-barang yang terdapat di dalam tas kita dan merapikannya. Karena perjalanan yang melelahkan, kami pun merasa lapar. Deo pun merogoh-rogoh tasnya dan ia mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong plastik.
"Opo iku yo?" (Apa itu yo?) tanya Dimas.
Deo pun membuka sesuatu itu dan ternyata itu adalah tempat makan yang berisi nasi dan ikan brengkesan.
"Wiihhh mantap" kata Dimas.
Kami bertiga pun menikmati nasi dan ikan brengkesan tersebut dan makan menggunakan tangan walaupun sebenarnya tangan kami sangatlah kotor. Kami tidak peduli, bertahan hidup di alam harus berani kotor. Penyakit? Kami yakin Tuhan selalu melindungi umat-umatnya. Tuhan pun juga pasti merasa senang kepada manusia yang selalu ingin belajar. Mendaki gunung bukan masalah menggapai puncak dan berfoto-foto ria, mendaki gunung adalah cara kita untuk mempelajari segala sesuatu yang diajarkan Tuhan melalui kejadian-kejadian alam yang harus kita pahami dan maknai. Rasanya sangat percuma jika kita mendaki gunung hanya untuk bersenang-senang tanpa mengetahui makna dari isi sebuah pendakian.

Setelah menyantap nasi dan ikan brengkesan, kami pun keluar dari tenda dan menikmati suasana gunung pada kala itu. Bintang-bintang dan sinarnya menghiasi langit, tak lupa lampu-lampu perkotaan yang menambah keindahan pemandangan dari ketinggian. Seduhan coklat panas dan biskuit juga menemani kala itu. Rasanya sangatlah lezat, ditambah lagi dinikmati bersama teman-teman di gunung. Setelah puas menikmati pemandangan dan menyantap makanan, kami pun mulai mengantuk, akhirnya kami pun tidur dan memutuskan untuk bangun pukul 5 pagi esoknya untuk melanjutkan ke Puncak Gunung Penanggungan.


............


Pukul 5 pagi pun kami bangun dan bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke puncak. Setelah semua perlengkapan siap, kami pun berangkat menuju ke Puncak Gunung Penanggungan. Tak lupa kami membawa senter untuk penerangan dan jaket untuk melindungi diri kita dari dinginnya suhu. Perjalanan menuju puncak kami lakukan dengan hati-hati karena langit masih gelap dan sumber penerangan kita hanyalah senter. Kita tahu bahwa banyak batu yang mungkin dapat menggelinding ke bawah karena tidak semua batu melekat erat dengan tanah. Kita harus berhati-hati dalam memilih pijakan. Sesekali kami berhenti untuk menarik nafas dan minum dan melanjutkan perjalanan lagi.
"He, Rosman iku engkok sido nyusul a?" (He, Rosman nanti jadi nyusul?) tanyaku.
"Emboh, jarene dee engkok nyusul ambek konco e" (Gatau, tapi katanya dia nanti nyusul bareng temennya" jawab Dimas.
Matahari mulai menampakkan dirinya. Cahayanya perlahan muncul dan menerangi perjalanan kami. Namun kami belum juga sampai di Puncak Gunung Penanggungan.
"He ayo rek, sitik maneh" (He ayo, tinggal dikit lagi) kataku.
30 menit setelah itu, kami telah sampai di Puncak Gunung Penanggungan. Kami pun duduk-duduk sambil menikmati pemandangan, bertemu dengan pendaki-pendaki lain, dan membahas apakah Rosman jadi menyusul atau tidak. Sambil menunggu Rosman, kami pun membuat video dan berfoto-foto. Kita telah menunggu selama 1 jam lebih dan Rosman tidak kunjung datang. Akhirnya kita bertiga pun memutuskan untuk kembali ke Puncak Bayangan. Saat kita akan kembali ke Puncak Bayangan, tiba-tiba Rosman datang bersama teman wanitanya, Meta, menyapa kita,
"Ape nandi kon rek?" (Kalian mau kemana?) kata Rosman
Secara spontan aku dan Dimas pun berkata "Laa iki arek e..." (Loh, ini ada anaknya). 
Akhirnya kami pun menunda untuk kembali ke Puncak Bayangan tempat dimana tenda kami berada. Sejenak kami berbicara bersama-sama, bersenda gurau dan menikmati sejuknya udara gunung. Dari situ entah mengapa aku merasa seperti jutaan sel di otakku telah diperbarui. Aku merasa sangat stres saat di kota, tetapi ketika aku di gunung, rasanya semua masalahku telah hilang. Gunung bukanlah tempat pelarian saat kita memiliki masalah. Namun gunung itu layaknya seorang ibu, dimana ia secara tidak langusng dapat memberikan solusi terbaik untuk setiap masalah melalui keadaan-keadaan alam yang ia miliki. Gunung mengajarkanku apa arti kehidupan sebenarnya, bagaiman kita mendekatkan diri pada Tuhan, apa arti persahabatan sebenarnya, mengajarkan untuk selalu menghargai segala sesuatu yang ada di sekeliling kita walau sekecil apapun itu, dan masih banyak lagi. Ketika aku berada di puncak, aku merasa betapa kecilnya diriku dihadapan Sang Kuasa. Belajar untuk merendahkan angkuh. Kita hanyalah manusia yang terbuat dari tanah, lahir di tanah, makan dari tanah, dan akan kembali pada tanah. Lalu, buat apa kita bersifat langit?. Isi pendakian benar-benar mengajarkanku banyak hal, aku jauh lebih muda peka terhadap lingkungan sekitarku. Sejuta kata pun tidak akan mampu mengungkapkan apa keistimewaan dari pendakian. Gunung adalah bungkus, pendakian adalah isinya. Bungkus harus dirawat agar dapat melindungi isinya, dan isinya adalah pembelajarannya.

Setelah itu, kami berlima pun turun menuju Puncak Bayangan. Kami mengistirahatkan tubuh kami sejenak sembari menikmati mie goreng. Setelah semuanya selesai, kami pun membereskan tenda dan peralatan kami dan melanjutkan perjalan menuju ke pos perijinan. Sesampainya di Pos Perijinan Gunung Penanggungan, kami pun melanjutkan perjalanan untuk kembali pulang. Namun, Rosman dan Meta memisahkan diri dari aku, Dimas, dan Deo. Karena Rosman memiliki acara lain bersama temannya. Hanya tersisa aku, Dimas dan Deo. Di tengah perjalanan, ternyata hujan turun. Kami bersyukur, karena tidak ada hujan disaat perjalanan turun dari gunung ke pos perijinan. Jika hal itu terjadi, jalanan akan menjadi licin dan tentunya akan lebih beresiko. Namun, kami tidak menghentikan perjalanan karena menurut kami tanggung untuk berhenti. Jadi kami tetap melanjutkan perjalanan pulang walaupun hujan mengguyur tubuh kami.

Gunung Penanggungan 1653 mdpl
18-19 Februari 2017


Foto-foto kami saat di Gunung Penanggungan
Perjalanan menuju Puncak Bayangan ( Deo, Dimas )

Perjalanan menuju Puncak Bayangan ( Deo, Dini )

Tas Karier yang kami gunakan

Tenda penuh dengan makanan wkwk


Tenda ( Dimas )
Puncak Bayangan ( Dini )


Puncak Bayangan ( Dimas, Rosman )

Foto sebelum perjalanan turun di Puncak Bayangan ( Deo, Dini, Rosman, Dimas )




2018/05/22

Disini... Kumulai Belajar

Puncak Gunung Penanggungan 1653 mdpl
Puncak Bayangan Gunung Penanggungan


XII IPA 2 itulah kelasku. Kelas yang berjumlah 27 orang dimana laki-laki menjadi kaum minoritas,  karena hanya 8 orang hehe. Kelasku terkenal sebagai kelas IPA rasa IPS, tidak hanya laki-lakinya, tetapi perempuannnya pun memiliki jiwa seperti laki-laki. Bisa dibilang 'Woman outside, Man inside' hahaha.

Dikala itu, suasana kelas sangat ramai. Semua temanku bergurau dan tertawa hingga kursi dan  meja pun turut menghiasi canda tawa mereka. Sementara itu, aku duduk membaca buku dan mencoba mencerna apa yang aku baca. "Din Dini, reneo (kesini)," kata temanku memanggil dengan menggunakan bahasa jawa, dia adalah Gambreng. "He opo mbreng," aku menjawab sambil menuju ke Gambreng dan teman-teman yang lain. Kami pun berbincang-bincang, ternyata mereka mengajakku untuk mendaki ke Gunung Penanggungan bersama-sama. Aku pun dengan semangat menjawab 'IYA'. Mulai dari peralatan seperti tenda, tas, makanan, kebutuhan mendaki lainnya pun dibahas. Kami juga berdiskusi mengenai tanggal pendakian. Sabtu, 25 Agustus 2016 menjadi keputusan kami untuk pergi mendaki dan kembali pada tanggal 26 Agustus 2016. Gambreng adalah satu-satunya temanku yang sudah berpengalaman dalam mendaki kala itu. Akhirnya, ia mengajak teman-teman untuk mendaki karena Rosman penasaran bagaimana rasanya mendaki. Kami pun juga mengajak teman-teman selain XII IPA 2 dan juga adik kelas, yaitu Dika dan Fiki yang pada saat itu mereka duduk di kelas XI.

Bagiku tawaran mendaki ini adalah kesempatan emas bagiku. Karena kesibukanku disaat kelas X dan XI membuatku jauh dari teman-teman kelasku. Aku yang pada kala itu menjadi ketua OSIS dan memiliki berbagai macam kegiatan untuk mewakili sekolah, membuat diriku sering meninggalkan pelajaran di kelas. Aku menganggap bahwa ajakan teman-temanku ini adalah sebagai sarana agar aku bisa mendekatkan diri lagi bersama teman-temanku. Sangat konyol bukan?, aku justru lebih dekat dengan teman-teman yang tidak sekelasku karena memiliki banyak kegiatan bersama mereka dibanding dengan teman-teman kelasku sendiri. Selain itu, sudah lama aku mempunyai keinginan untuk mendaki. Di kelas XI aku juga pernah menerima tawaran untuk LAGUP (Lomba Lintas Alam Gunung Penanggungan) bersama teman-teman, sayangnya aku tidak bisa pergi karena ada kegiatan dihari yang sama dengan kegiatan LAGUP tersebut. 

Hari Sabtu pun tiba, kami mempersiapkan segala peralatan dan halaman depan sekolah menjadi titik kumpul kami. Semuanya berdandan seperti mau pergi ke mall (mungkin...efek pertama kali mendaki hahahaha) dengan celana jeans dan pakaian serba tertutup karena takut kedinginan dan menggunakan sepatu running. Kami pun berangkat menuju ke Gunung Penanggungan.


................Sesampainya di pos perijinan Gunung Penanggungan................


Rombongan kami pun tiba. Karna banyaknya rombongan yang kami bawa, tim SAR Gunung Penanggungan yang bertugas di pos perijinan pun terkejut. Mungkin karena wajah kita yang masih imut tetapi berani membawa rombongan kali ya, karena ada 13 orang hahaha. Setelah mendaftarkan rombongan, aku dan teman-teman pun berdoa.
"SIAP??????!!!!!" kata Gambreng.
"SI.....AAPPP!!" kata teman-teman dengan penuh semangat.
Kami pun memulai pendakian. Semuanya berjalan dengan baik, kami bersenda gurau hingga tertawa terbahak-bahak.
"Loh, iki gaonok Tour Guide e ta?" (Loh, ini nggak ada tour guide-nya ya?) canda Dhima. Dhima pun juga sudah memiliki pengalaman mendaki sebelumnya. Dia adalah temanku dari sekolah yang berbeda.
"Lah mbok peker Borobudur a atek onok tour guide e" (Lah kamu pikir ini Candi Borobudur kok pake ada tour guidenya) celetuk ku yang langsung mengundang gelak tawa mereka.
Suasana yang sepi dan sunyi pun menghiasi. Tak lupa dengan gesekan daun karena angin. Diantara rombongan kami hanya ada 3 senter dimana semuanya dibagi rata agar kami dapat melihat jalan yang kami tapak. Semuanya masih berjalan baik-baik saja, tidak ada kendala apapun.
"He rek, iki pertanda ape udan iki rek. Ayo rek, rodok banter, ndang totok Puncak Bayangan ndang ndirino tenda ndang ngopi ndang santai" (Eh woi, ini pertanda mau hujan. Ayo woi, cepetan... Biar cepat sampai Puncak Bayangan, cepat berdiriin tenda, cepat ngopi, cepat santai) kata Gambreng.
Tak lama setelah Gambreng berkata, Deo pun memberitahukan hal buruk, tiba-tiba senternya mati karena kehabisan baterai. Kejadian itupun disusul dengan senter-senter yang lainnya.
"Lo rek, senter e mati kabeh?" (Loh, senternya mati semua?) kata Sandra.
"Looo la terus yaapa ini mentor" (Loh, terus gimana ini, mentor?) jawab Dika. Mentor adalah panggilan mereka untuk senior yang terlibat sebagai panitia MPLS disekolah kami.
Tiba-tiba Fiki pun menjawab,
"Aku onok senter, sek tak jupuk e" (Aku ada senter, ambil sana).
Setelah Fiki mengambil senter di dalam tasnya, ternyata senternya pun tidak berfungsi. OKE, kita mendaki TANPA SENTER! dan semuanya gelap. Ketakutan kami masih dapat kami kendalikan. Lalu, kalian tahu apa yang terjadi?? Hujan rintik-rintik pun turun. Ini adalah pendakian pertama kami, tentunya kami belum sepenuhnya siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, baik itu hujan, kedinginan, maupun bahaya dan rintangan yang lainnya. Rasanya aku ingin menangis, dan dalam hati aku berkata "Tuhan, jangan ambil nyawaku dan teman-temanku dulu. Lindungi kami". Kami semua merasa sangat khawatir. Tidak hanya mengkhawatirkan diri sendiri, tetapi juga keselamatan teman-teman kami yang lainnya. 
"Sek sek rek, sabar sabar. Tak golekno dalan" (Bentar, bentar. Aku carikan jalannya) kata Gambreng dan anak laki-laki lainnya sembari merabah-rabah tanah untuk mencari jalan.
Semuanya begitu gelap, kami tidak dapat melihat apapun kecuali teman-teman yang ada di dekat kita. Pandangan tertutup oleh kabut putih dan dihiasi oleh rintik-rintik hujan. Tanahnya pun menjadi licin, ditambah lagi jalanan yang begitu tajam.
"Sek sek Din, aku tak munggah disek an, engkok lek wes mari tak tolonge awakmu" (Sebentar din, aku yang naik duluan, nanti kalau sudah selesai, aku tolongin kamu) kata Rosman.
Rosman pun mencari jalan lalu ia memberikan tangannya kepadaku untuk membantu agar aku dapat melewati jalanan yang terjal dan dipenuhi batu itu. Semua teman-temanku saling bergandengan dan berteriak "Awas rek di sebelah kiri jurang", "Awas hati-hati ada tanjakan", "Awas rek, jangan terlalu ke kanan. Ikuti jalanku" dan masih banyak lagi. Semua itu kami lakukan untuk memastikan bahwa semua anggota kami baik-baik saja walaupun sebenarnya kekhwatiran menyelimuti hati kami. Kami semua merasa takut, takut akan kehilangan teman-teman yang kami sayang.
"He ayo rek, iki wes ape cedek Puncak Bayangan" (Ayo teman, ini sudah mau dekat Puncak Bayangan).
Tak lama setelah itu, kami pun sampai di Puncak Bayangan. Hujan pun semakin deras. Semua anak laki-laki pun menyuruh anak-anak perempuan untuk berlindung di bawah jas hujan terlebih dahulu dan menjaga tas-tas agar tidak kebasahan. Gambreng, Rosman, Dimas, Deo, Dani, Pesek alias Ilham dan Fiki pun mendirikan tenda untuk tempat berteduh. Ada 3 tenda waktu itu. 1 tenda telah jadi untuk Dhima dan Dewi. Mereka adalah teman kami dari sekolah yang berbeda, kami baru kenal saat itu. Karena itulah tenda kami para perempuan waktu itu terpisah karena kami masih sungkan dan malu-malu. Dilanjutkan dengan tenda kedua untuk kami para cewek. Oh My God! Ternyata tendanya terdapat air di dalamnya bagaikan kolam. Akhirnya kami pun menunggu untuk tenda yang terakhir. Setelah semua tenda jadi, kami para wanita pun masuk ke dalam tenda dan berteduh dengan baju yang basah dan tentunya membuat tubuh kami menjadi kedinginan dan menggigil. Anak laki-laki pun juga telah masuk ke tenda mereka. Hujan pun masih membasahi, kami hanya dapat berdiam diri di dalam tenda dan berusaha untuk menghangatkan tubuh kami. Hujan pun reda. Waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Anak laki-laki keluar dari tenda sambil menikmati kopi yang mereka buat. Kami para perempuan tidak berani keluar karena takut kedinginan. Sampai akhirnya kami semua pun tertidur di dalam tenda.


................Perjalanan menuju Puncak Gunung Penanggungan................


Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Kami semua bersiap untuk melanjutkan perjalan dari Puncak Bayangan menuju Puncak Gunung Penanggungan. Bawaan kami tidak seberat sebelumnya. Kali ini kami hanya membawa roti dan minum dengan beberapa tas saja.
"Ayo muncak rek" (Ayo puncak, teman).
Kami berangkat. Perlahan-lahan kami melangkah, perlahan-lahan kami memilih pijakan. Karena jika kami tidak hati-hati, batu yang kami pijak bisa saja bergeser dan menggelinding kebawah yang beresiko mengenai pendaki lainnya. Perasaanku pada saat itu takut, tapi aku harus melawannya. Aku tidak mau berjuang setengah-setengah dan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ditambah lagi, ini adalah petualanganku bersama teman-teman yang akan menjadi ceritaku nanti. Panas matahari mulai menyengat, namun pakaian dingin tetap kugunakan. Kami membantu satu sama lain agar kami bisa sama-sama sampai di puncak. Jalanan menuju puncak sangatlah menakutkan bagiku kala itu, sudah terjal, banyak bebatuan, ditambah lagi debu dan ketinggian yang membuatku merinding. Sekitar 2 jam lebih perjalanan aku dan teman-teman menuju puncak. Akhirnya, kami semua pun sampai di puncak! Yeay! Sampai! Aku sangat bersyukur, ternyata aku bisa sampai di puncak. Padahal selama ini aku hanya bermimpi kapan aku bisa berada di puncak gunung. Dan akhirnya impianku itu terwujud! Ditambah lagi aku berada di puncak bersama teman-temanku. Kami sangat bersyukur, karena kami bisa melewati kesusahan bersama yang telah kami lewati semalam, dan sekarang kami sudah berada di puncak bersama-sama. Kami pun berfoto-foto ria, tak lupa menuliskan salam untuk orang-orang yang kami sayangi (maklum namanya baru pertama kali mendaki hehehe).


Setelah beberapa jam di puncak dengan berbagai kegiatan yang menghiasi, kami pun kembali menuju ke Puncak Bayangan dan mengemasi barang-barang untuk kembali ke rumah. Saat perjalanan turun memang sedikit sepi dibandingkan saat berangkat karena mungkin kami semua sudah lelah dan ingin segera kembali ke rumah dan menikmati kasur yang empuk hehehe. Tidak lupa untuk bertemu keluarga juga pastinya.





Dari pendakian ku yang pertama ini, aku belajar, bahwa kita tidak perlu merasa khawatir dan takut akan setiap keadaan. Sesulit apapun keadaan itu, jika kita memiliki teman, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Teman adalah hal yang berharga, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Tidak perlu menjadi egois dan berharap mendapatkan piala sendiri, bersaing dengan manusia lain hanya akan mendapatkan piala biasa. Ingat, puncak bukanlah harga mati. Kamu bisa mendapatkan puncak sendirian itu memang hebat. Tetapi kamu jauh lebih hebat jika bisa mendapatkan puncak dengan membawa tim mu yang utuh. Berjalan sendirian memang membuatmu lebih cepat, tetapi berjalan bersama teman akan membuat perjalananmu semakin jauh. Kamu cepat, belum tentu kamu jauh.

Ingat, kebersamaan bagi pecinta alam adalah hal yang penting. Ada kutipan yang mengatakan "Berteman paling asyik adalah berteman dengan pendaki yang berpengalaman". Mungkin kalian yang belum tahu masih bertanya-tanya apa maksud dari kutipan tersebut. Hingga saatnya nanti, kamu akan mendapatkan jawaban apa arti sebenarnya dari kutipan itu. Maka dari itu, ikutlah aku mendaki, maka kamu akan tau apa saja isi dari pendakian, kamu akan tahu bagaimana sifatku, dan bagaimana aku menjagamu. SALAM LESTARI!

Gunung Penanggungan 1653 mdpl
25 - 26 Agustus 2016