![]() |
| Puncak Gunung Penanggungan 1653 mdpl |
![]() |
| Puncak Bayangan Gunung Penanggungan |
XII IPA 2 itulah kelasku. Kelas yang berjumlah 27 orang dimana laki-laki menjadi kaum minoritas, karena hanya 8 orang hehe. Kelasku terkenal sebagai kelas IPA rasa IPS, tidak hanya laki-lakinya, tetapi perempuannnya pun memiliki jiwa seperti laki-laki. Bisa dibilang 'Woman outside, Man inside' hahaha.
Dikala itu, suasana kelas sangat ramai. Semua temanku bergurau dan tertawa hingga kursi dan meja pun turut menghiasi canda tawa mereka. Sementara itu, aku duduk membaca buku dan mencoba mencerna apa yang aku baca. "Din Dini, reneo (kesini)," kata temanku memanggil dengan menggunakan bahasa jawa, dia adalah Gambreng. "He opo mbreng," aku menjawab sambil menuju ke Gambreng dan teman-teman yang lain. Kami pun berbincang-bincang, ternyata mereka mengajakku untuk mendaki ke Gunung Penanggungan bersama-sama. Aku pun dengan semangat menjawab 'IYA'. Mulai dari peralatan seperti tenda, tas, makanan, kebutuhan mendaki lainnya pun dibahas. Kami juga berdiskusi mengenai tanggal pendakian. Sabtu, 25 Agustus 2016 menjadi keputusan kami untuk pergi mendaki dan kembali pada tanggal 26 Agustus 2016. Gambreng adalah satu-satunya temanku yang sudah berpengalaman dalam mendaki kala itu. Akhirnya, ia mengajak teman-teman untuk mendaki karena Rosman penasaran bagaimana rasanya mendaki. Kami pun juga mengajak teman-teman selain XII IPA 2 dan juga adik kelas, yaitu Dika dan Fiki yang pada saat itu mereka duduk di kelas XI.
Bagiku tawaran mendaki ini adalah kesempatan emas bagiku. Karena kesibukanku disaat kelas X dan XI membuatku jauh dari teman-teman kelasku. Aku yang pada kala itu menjadi ketua OSIS dan memiliki berbagai macam kegiatan untuk mewakili sekolah, membuat diriku sering meninggalkan pelajaran di kelas. Aku menganggap bahwa ajakan teman-temanku ini adalah sebagai sarana agar aku bisa mendekatkan diri lagi bersama teman-temanku. Sangat konyol bukan?, aku justru lebih dekat dengan teman-teman yang tidak sekelasku karena memiliki banyak kegiatan bersama mereka dibanding dengan teman-teman kelasku sendiri. Selain itu, sudah lama aku mempunyai keinginan untuk mendaki. Di kelas XI aku juga pernah menerima tawaran untuk LAGUP (Lomba Lintas Alam Gunung Penanggungan) bersama teman-teman, sayangnya aku tidak bisa pergi karena ada kegiatan dihari yang sama dengan kegiatan LAGUP tersebut.
Hari Sabtu pun tiba, kami mempersiapkan segala peralatan dan halaman depan sekolah menjadi titik kumpul kami. Semuanya berdandan seperti mau pergi ke mall (mungkin...efek pertama kali mendaki hahahaha) dengan celana jeans dan pakaian serba tertutup karena takut kedinginan dan menggunakan sepatu running. Kami pun berangkat menuju ke Gunung Penanggungan.
................Sesampainya di pos perijinan Gunung Penanggungan................
Rombongan kami pun tiba. Karna banyaknya rombongan yang kami bawa, tim SAR Gunung Penanggungan yang bertugas di pos perijinan pun terkejut. Mungkin karena wajah kita yang masih imut tetapi berani membawa rombongan kali ya, karena ada 13 orang hahaha. Setelah mendaftarkan rombongan, aku dan teman-teman pun berdoa.
"SIAP??????!!!!!" kata Gambreng.
"SI.....AAPPP!!" kata teman-teman dengan penuh semangat.
Kami pun memulai pendakian. Semuanya berjalan dengan baik, kami bersenda gurau hingga tertawa terbahak-bahak.
"Loh, iki gaonok Tour Guide e ta?" (Loh, ini nggak ada tour guide-nya ya?) canda Dhima. Dhima pun juga sudah memiliki pengalaman mendaki sebelumnya. Dia adalah temanku dari sekolah yang berbeda.
"Lah mbok peker Borobudur a atek onok tour guide e" (Lah kamu pikir ini Candi Borobudur kok pake ada tour guidenya) celetuk ku yang langsung mengundang gelak tawa mereka.
Suasana yang sepi dan sunyi pun menghiasi. Tak lupa dengan gesekan daun karena angin. Diantara rombongan kami hanya ada 3 senter dimana semuanya dibagi rata agar kami dapat melihat jalan yang kami tapak. Semuanya masih berjalan baik-baik saja, tidak ada kendala apapun.
"He rek, iki pertanda ape udan iki rek. Ayo rek, rodok banter, ndang totok Puncak Bayangan ndang ndirino tenda ndang ngopi ndang santai" (Eh woi, ini pertanda mau hujan. Ayo woi, cepetan... Biar cepat sampai Puncak Bayangan, cepat berdiriin tenda, cepat ngopi, cepat santai) kata Gambreng.
Tak lama setelah Gambreng berkata, Deo pun memberitahukan hal buruk, tiba-tiba senternya mati karena kehabisan baterai. Kejadian itupun disusul dengan senter-senter yang lainnya.
"Lo rek, senter e mati kabeh?" (Loh, senternya mati semua?) kata Sandra.
"Looo la terus yaapa ini mentor" (Loh, terus gimana ini, mentor?) jawab Dika. Mentor adalah panggilan mereka untuk senior yang terlibat sebagai panitia MPLS disekolah kami.
Tiba-tiba Fiki pun menjawab,
"Aku onok senter, sek tak jupuk e" (Aku ada senter, ambil sana).
Setelah Fiki mengambil senter di dalam tasnya, ternyata senternya pun tidak berfungsi. OKE, kita mendaki TANPA SENTER! dan semuanya gelap. Ketakutan kami masih dapat kami kendalikan. Lalu, kalian tahu apa yang terjadi?? Hujan rintik-rintik pun turun. Ini adalah pendakian pertama kami, tentunya kami belum sepenuhnya siap dengan segala kemungkinan yang terjadi, baik itu hujan, kedinginan, maupun bahaya dan rintangan yang lainnya. Rasanya aku ingin menangis, dan dalam hati aku berkata "Tuhan, jangan ambil nyawaku dan teman-temanku dulu. Lindungi kami". Kami semua merasa sangat khawatir. Tidak hanya mengkhawatirkan diri sendiri, tetapi juga keselamatan teman-teman kami yang lainnya.
"Sek sek rek, sabar sabar. Tak golekno dalan" (Bentar, bentar. Aku carikan jalannya) kata Gambreng dan anak laki-laki lainnya sembari merabah-rabah tanah untuk mencari jalan.
Semuanya begitu gelap, kami tidak dapat melihat apapun kecuali teman-teman yang ada di dekat kita. Pandangan tertutup oleh kabut putih dan dihiasi oleh rintik-rintik hujan. Tanahnya pun menjadi licin, ditambah lagi jalanan yang begitu tajam.
"Sek sek Din, aku tak munggah disek an, engkok lek wes mari tak tolonge awakmu" (Sebentar din, aku yang naik duluan, nanti kalau sudah selesai, aku tolongin kamu) kata Rosman.
Rosman pun mencari jalan lalu ia memberikan tangannya kepadaku untuk membantu agar aku dapat melewati jalanan yang terjal dan dipenuhi batu itu. Semua teman-temanku saling bergandengan dan berteriak "Awas rek di sebelah kiri jurang", "Awas hati-hati ada tanjakan", "Awas rek, jangan terlalu ke kanan. Ikuti jalanku" dan masih banyak lagi. Semua itu kami lakukan untuk memastikan bahwa semua anggota kami baik-baik saja walaupun sebenarnya kekhwatiran menyelimuti hati kami. Kami semua merasa takut, takut akan kehilangan teman-teman yang kami sayang.
"He ayo rek, iki wes ape cedek Puncak Bayangan" (Ayo teman, ini sudah mau dekat Puncak Bayangan).
Tak lama setelah itu, kami pun sampai di Puncak Bayangan. Hujan pun semakin deras. Semua anak laki-laki pun menyuruh anak-anak perempuan untuk berlindung di bawah jas hujan terlebih dahulu dan menjaga tas-tas agar tidak kebasahan. Gambreng, Rosman, Dimas, Deo, Dani, Pesek alias Ilham dan Fiki pun mendirikan tenda untuk tempat berteduh. Ada 3 tenda waktu itu. 1 tenda telah jadi untuk Dhima dan Dewi. Mereka adalah teman kami dari sekolah yang berbeda, kami baru kenal saat itu. Karena itulah tenda kami para perempuan waktu itu terpisah karena kami masih sungkan dan malu-malu. Dilanjutkan dengan tenda kedua untuk kami para cewek. Oh My God! Ternyata tendanya terdapat air di dalamnya bagaikan kolam. Akhirnya kami pun menunggu untuk tenda yang terakhir. Setelah semua tenda jadi, kami para wanita pun masuk ke dalam tenda dan berteduh dengan baju yang basah dan tentunya membuat tubuh kami menjadi kedinginan dan menggigil. Anak laki-laki pun juga telah masuk ke tenda mereka. Hujan pun masih membasahi, kami hanya dapat berdiam diri di dalam tenda dan berusaha untuk menghangatkan tubuh kami. Hujan pun reda. Waktu menunjukkan pukul 02.00 pagi. Anak laki-laki keluar dari tenda sambil menikmati kopi yang mereka buat. Kami para perempuan tidak berani keluar karena takut kedinginan. Sampai akhirnya kami semua pun tertidur di dalam tenda.
................Perjalanan menuju Puncak Gunung Penanggungan................
Jam menunjukkan pukul 8 pagi. Kami semua bersiap untuk melanjutkan perjalan dari Puncak Bayangan menuju Puncak Gunung Penanggungan. Bawaan kami tidak seberat sebelumnya. Kali ini kami hanya membawa roti dan minum dengan beberapa tas saja.
"Ayo muncak rek" (Ayo puncak, teman).
Kami berangkat. Perlahan-lahan kami melangkah, perlahan-lahan kami memilih pijakan. Karena jika kami tidak hati-hati, batu yang kami pijak bisa saja bergeser dan menggelinding kebawah yang beresiko mengenai pendaki lainnya. Perasaanku pada saat itu takut, tapi aku harus melawannya. Aku tidak mau berjuang setengah-setengah dan menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Ditambah lagi, ini adalah petualanganku bersama teman-teman yang akan menjadi ceritaku nanti. Panas matahari mulai menyengat, namun pakaian dingin tetap kugunakan. Kami membantu satu sama lain agar kami bisa sama-sama sampai di puncak. Jalanan menuju puncak sangatlah menakutkan bagiku kala itu, sudah terjal, banyak bebatuan, ditambah lagi debu dan ketinggian yang membuatku merinding. Sekitar 2 jam lebih perjalanan aku dan teman-teman menuju puncak. Akhirnya, kami semua pun sampai di puncak! Yeay! Sampai! Aku sangat bersyukur, ternyata aku bisa sampai di puncak. Padahal selama ini aku hanya bermimpi kapan aku bisa berada di puncak gunung. Dan akhirnya impianku itu terwujud! Ditambah lagi aku berada di puncak bersama teman-temanku. Kami sangat bersyukur, karena kami bisa melewati kesusahan bersama yang telah kami lewati semalam, dan sekarang kami sudah berada di puncak bersama-sama. Kami pun berfoto-foto ria, tak lupa menuliskan salam untuk orang-orang yang kami sayangi (maklum namanya baru pertama kali mendaki hehehe).
Setelah beberapa jam di puncak dengan berbagai kegiatan yang menghiasi, kami pun kembali menuju ke Puncak Bayangan dan mengemasi barang-barang untuk kembali ke rumah. Saat perjalanan turun memang sedikit sepi dibandingkan saat berangkat karena mungkin kami semua sudah lelah dan ingin segera kembali ke rumah dan menikmati kasur yang empuk hehehe. Tidak lupa untuk bertemu keluarga juga pastinya.
Dari pendakian ku yang pertama ini, aku belajar, bahwa kita tidak perlu merasa khawatir dan takut akan setiap keadaan. Sesulit apapun keadaan itu, jika kita memiliki teman, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Teman adalah hal yang berharga, karena pada dasarnya kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan bantuan dari orang lain. Tidak perlu menjadi egois dan berharap mendapatkan piala sendiri, bersaing dengan manusia lain hanya akan mendapatkan piala biasa. Ingat, puncak bukanlah harga mati. Kamu bisa mendapatkan puncak sendirian itu memang hebat. Tetapi kamu jauh lebih hebat jika bisa mendapatkan puncak dengan membawa tim mu yang utuh. Berjalan sendirian memang membuatmu lebih cepat, tetapi berjalan bersama teman akan membuat perjalananmu semakin jauh. Kamu cepat, belum tentu kamu jauh.
Ingat, kebersamaan bagi pecinta alam adalah hal yang penting. Ada kutipan yang mengatakan "Berteman paling asyik adalah berteman dengan pendaki yang berpengalaman". Mungkin kalian yang belum tahu masih bertanya-tanya apa maksud dari kutipan tersebut. Hingga saatnya nanti, kamu akan mendapatkan jawaban apa arti sebenarnya dari kutipan itu. Maka dari itu, ikutlah aku mendaki, maka kamu akan tau apa saja isi dari pendakian, kamu akan tahu bagaimana sifatku, dan bagaimana aku menjagamu. SALAM LESTARI!
Gunung Penanggungan 1653 mdpl
25 - 26 Agustus 2016







Tidak ada komentar:
Posting Komentar