2018/06/06

Lelah yang Terbayarkan


Cerita ini aku tulis agar tidak hilang dan selalu terkenang. Kawan, aku rindu masa-masa itu. Aku rindu canda tawa kita saat di gunung. Bersama menikmati keindahan alam, belajar dari alam, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui alam. Jangan lupakan cerita-cerita kita kawan. Aku disini sangat merindukan kalian:')


---Awal Rencana Pendakian---

"Rek rekk, ayo Sandal Pawon ndaki bareng maneh. Suwe wes gak ndaki maneh. Maringene kene kelas 12 semester 2 reek, ben onok kenang-kenangan e. Gorong karuan engkok kene isok ndaki bareng maneh" (Teman-teman, ayo Sandal Pawon ndaki bareng lagi. Sudah lama kita nggak ndaki bareng. Habis ini kita kelas 12 semester 2, biar ada kenang-kenangannya. Belum tentu nanti kita bisa mendaki bareng lagi).
Itu adalah kalimat pembuka saat kita akan merencanakan pendakian kita dibulan Desember, 2016. Pada awalnya, kita merencanakan pendakian di Gunung Panderman dengan ketinggian 2045 mdpl selama 3 hari. Pikiran kita sih, biar bisa lama bareng teman-teman di gunung. Jadi, lebih banyak cerita yang kita miliki bersama teman-teman saat di gunung. Ditambah lagi kita berpikir bahwa setelah itu kita tidak memiliki kesempatan untuk mendaki lagi karena akan disibukkan oleh segala macam ujian dan try-out untuk menghadapi UNAS (Ujian Nasional). Namun, Rosman berpendapat lain, ia menyarankan untuk mendaki ke Gunung Bhutak yang berada di sebelah Gunung Panderman tetapi masih 1 pos perijinan dan akan dipisahkan oleh jalur yang berbeda. Akhirnya, kami pun menyetujui dan menentukan tanggal walaupun sebelumnya sempat terjadi adu argumen mengenai Gunung Panderman atau Gunung Bhutak sebagai tujuan kita. Rosman pun berhasil meyakinkan kita untuk memilih Gunung Bhutak karena ia memperlihatkan foto temannya yang telah sampai di puncak Gunung Bhutak terlebih dahulu. Kami pun mengajak teman-teman sebanyak mungkin untuk pendakian ke Gunung Bhutak. Semakin banyak yang ikut, semakin ramai, semakin seru. Akhirnya terdapat 11 orang yaitu Aku, Cerlita, Rindu, Dhima, Rosman, Dimas, Gambreng, Deo, Pesek, 2 adek kelas kami yaitu Tianny dan Ghozi.


---Keberangkatan---
 
Pendakian kami mulai pada hari Jumat. Sebelumnya, kami membuat perjanjian kumpul di halaman depan sekolah pukul setengah 7 malam. Pada faktanya, teman-teman pada molor dan tim baru berkumpul lengkap pada pukul 9 malam.
"Wes a? lengkap kan iki? Delok en a reek reek, wes jam piro iki" (Sudah lengkap kan? Lihat en ta reek, sudah jam berapa ini) kata Gambreng.
"Iki lo, Cerlita maeng tak susul ambek Ndus nak omah e jek turu malahan" (Ini loh, tadi waktu aku sama Ndus jemput Cerlita di rumahnya, dianya malah masih tidur) celetukku. Ndus adalah nama panggilan untuk Rindu wkwk.
"Iyo, terus aku ambek Dini ngakak, gara-gara Cer digonceng ibuk e terus dee ndaki malah nggae tas sekolah. Cinta banget dee ambek sekolah wkwk" (Iya, terus aku sama Dini tertawa terbahak-bahak gara-gara Cerlita digonceng mamanya terus dia mau ndaki tapi malah pake tas sekolah. Cinta banget sama sekolah wkwk) sahut Rindu.
"La yaopo ya, aku wes ngomong ibukku 'buk tangikno aku engkok', malah gak ditangino" (La gimana ya, aku sudah bilang ibuku 'Bu nanti bangunin aku ya', ternyata malah nggak dibangunin) jawab Cerlita dengan suara cemprengnya wkwk.
Setelah perbincangan yang tidak ada hentinya itu, akhirnya kami pun berangkat menuju pos perijinan Gunung Bhutak yang ada di Batu, Malang.

Di tengah perjalanan, hujan tiba-tiba turun dan memaksa kami untuk menggunakan jas hujan. Pada awalnya kami sempat terpisah-pisah karena kami mengendarai sepeda motor pada saat itu. Aku yang saat itu digonceng Pesek pun berhenti untuk berteduh sambil melihat ke arah jalan raya untuk memberi sinyal kepada teman-teman yang melewati kita bahwa kita sedang berteduh. Awalnya, kami ingin menunggu hujan reda. Namun waktu memaksa kami untuk menerjang ombak menembus badai. Kami pun menggunakan jas hujan dan melanjutkan perjalanan. Sebagian pakaian kami basah terkena hujan dan kami merasa kedinginan. Sesampainya di Alun-Alun Batu, kami menghentikan perjalanan sejenak untuk mengistirahatkan tubuh dan membeli teh hangat. Beruntung hujan sudah reda pada saat itu. Kami membeli 3 kantong teh panas untuk 11 anak. Anehnya, teh panas itu tidak langsung diminum, melainkan digunakan untuk menghangatkan tubuh kami. Ada yang meletakkannya di telapak tangan, wajah, bahkan telapak kaki wkwk. Jijik? TIDAK! Di gunung justru lebih parah! hahaha. Setelah kurang lebih 30 menit kami beristirahat, kami pun melanjutkan perjalan lagi.

Saat hampir sampai di pos perijinan, tiba-tiba kami pun tersesat, kami tidak tahu jalan mana yang harus kita tempuh. Kami pun menunggu sejenak. Tiba-tiba, datang segerombolan orang dengan karier (tas gunung) dan kami berpikir bahwa mereka pasti pendaki yang ingin mendaki ke Gunung Panderman atau Bhutak.
"Pak pak, permisi mau tanya. Pos perijinan Gunung Bhutak dimana ya?" tanya Rosman
"Loalah, ape nak Bhutak sisan ta arek-arek iki. Iki lo, lurus terus ae sampean engkok wes karek ngetuti dalan iku wes pos perijinan e. Aku yo ape nak Bhutak iki. Wes kene, sante sek ae lo, lungguh-lungguh disek" (Loalah, mau ke Gunung Bhutak juga ternyata anak-anak ini. Ini lo, lurus terus nanti kalian tinggal ngikutin jalan terus nanti bakal ketemu pos perijinannya. Aku juga mau ke Bhutak. Sini dulu, duduk-duduk santai) jawab bapak itu dengan ramah sambil mengajak kami untuk bersantai sejenak.
Sayangnya, kami menolak ajakan bapak tersebut karena kami mengejar waktu pada saat itu. Pikiran kami adalah segera sampai di tempat camp, masuk tenda, dan istirahat. Tak lupa sebelum meninggalkan bapak dan rombongannya, kami mengucapkan terima kasih. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju pos perijinan yang sudah cukup dekat. Jalanan semakin menanjak dan berliku-liku. Tiba-tiba, terdapat sesorang di depan yang menghentikan lajur sepeda motor kami.
"Ape nandi mas" (Mau kemana mas?) tanya seorang laki-laki tersebut.
"Mau ke Gunung Bhutak pak" jawab Deo
"Iki sampean nggae motor matic, gaisok mas. Sampean kudu parkir nak kene" (Ini kalian pakai motor matic, nggak boleh. Kalian harus parkir disini) jawabnya yang membuat kami sedikit bingung.
"Lo terus pak, kita nanti ke pos perijinannya gimana? Sudah dekat ta pak? Memangnya kenapa pak kalau pakai motor matic?" jawab Rosman.
"Halah, wes cedek kok mas pos e. Isok mlaku. Akeh seng kecelakaan soale mas pendaki-pendaki seng nggae motor matic, makane saiki dilarang" (Hoala, sudah dekat kok mas pos perijinannya. Jalan dari sini bisa. Pendaki-pendaki yang pakai motor matic banyak yang kecelakaan soalnya mas, makanya sekarang dilarang pakai motor matic) jawab bapak itu dengan sedikit menakuti dan memaksa kami untuk memarkirkan motor kami di wilayahnya.
Kami pun berunding, bagaimana keputusannya. Ini adalah pendakian pertama kami ke Gunung Bhutak. Tetapi Gambreng bercerita bahwa sebelumnya tidak masalah jika menggunakan motor matic. Akhirnya, daripada ribet, kita pun memarkirkan motor kami dan berjalan dari parkiran tersebut menuju ke pos perijinan. Sebelum melakukan perjalanan menuju pos perijinan, kami beristirahat sebentar untuk menyiapkan segala peralatan dan menghangatkan tubuh kami dengan api unggun yang ada. Setelah cukup lama beristirahat, kami pun melakukan perjalanan menuju pos perijinan.


---Halang Rintang Menuju Pos Perijinan---
 
Pada awalnya, kami mengira bahwa jarak antara parkiran dimana kami memarkirkan sepeda motor tidak terlalu jauh dengan pos perijinan. Faktanya, ini sangat jauh! Ditambah lagi jalanan aspal yang menanjak, beban yang kami bawa, dan suhu yang sangat dingin. Tetapi kami masih bersemangat, walaupun sedikit takut karena suasana jalan yang begitu gelap dan sunyi. Hingga pada akhirnya, setelah kurang lebih 45 menit melakukan perjalanan dan tidak kunjung sampai, tiba-tiba Cerlita berkata,
"He iki jek adoh a rek? Dadaku kok sesek yo. Gak biasane aku kayak ngene. Sek sek poo rek, lungguh disek" (He ini masih jauh ta rek? Dadaku kok sesak ya. Padahal biasanya nggak pernah sesak gini. Tunggu dulu poo rek, duduk dulu).
Kami pun memutuskan untuk duduk sejenak. Semua teman-temanku sudah hampir menyerah pada saat itu karena kondisi jalanan, suasana, dan ini belum mendaki! Ini masih perjalanan menuju pos perijinan!. Jam menunjukkan hampir pukul 12 malam dan akan segera berganti hari dari Jumat menjadi Sabtu. Kami pun berdiskusi,
"He yaopo iki rek? Iki lo kok gak totok-totok nak pos e" (He gimana ini rek? Ini lo kok nggak sampai-sampai di pos nya?) kataku.
"Iki maeng nak Penanggungan paling wes enak yo. Wes totok Puncak Bayangan, wes melbu tenda, turu, enak" (Ini tadi kalo ke Gunung Penanggungan udah enak paling yaa. Sudah sampai Puncak Bayangan, masuk tenda, tidur, enaak) jawab Dhima.
"Yaopo iki rek?" (Gimana ini rek?) tanya Gambreng.
Tiba-tiba Pesek menjawab dengan tertatih-tatih,
"He wes rek, aku wes gak kuat. Wes gowoen karierku ae gapopo. Aku tak mbalek, tak moleh. Aku wes gak kuat rek. Lek gak kene nak pantai ae wes gapopo" (He, udah rek, aku sudah nggak kuat. Sudah, kalian bawa karierku wes gapapa. Aku tak balik, aku tak pulang. Aku sudah nggak kuat rek. Kalau enggak kita ke pantai aja wes gapapa) jawab Pesek yang sontak membuat teman-teman yang lain ingin berkata kasar wkwk
"Yaopo iki?" (Gimana ini?) tanya Deo
"La kon sek yaopo, nggowo peralatan gunung, kene wes siap sembarang kalir gae nak gunung, kon malah ngejak nak pantai yaopo seh wkwk" (Kamu ini gimana, kita sudah bawa peralatan gunung, sudah siap semuanya buat di gunung, kamu malah ngajak ke pantai itu gimana ceritanya) kata Dimas sambil tertawa.
"Aku tiwas ngiming-ngimingi arek-arek kelas 'Weeh engkok aku nak puncak', mosok saiki malah nak pantai. Kenek gojlok engkok aku iki wes wkwk" (Aku sudah terlanjur ngiming-ngimingi anak-anak kelas 'Weehhh aku nanti di puncak', masak sekarang malah ganti ke pantai. Jadi bahan olok-olokan aku nanti wkwk) jawab Rosman.
"Yaelah, masak ini pertama kali aku ndaki. Aku wes seneng, wes diijinin papaku, mosok gajadi. Halah" (Yaelah, masak ini pertama kali aku ndaki. Aku udah seneng, udah diijinin papaku, masak gak jadi. Halah) jawab Tianny yang sedikit sedih wkwk.
"Halaah iyo lo rek, eman" tambah Rindu.
"Aku wes gak kuat rek, temenan" (Aku sudah nggak kuat rek, beneran) jawab Cerlita sambil berbaring di pinggir jalan karena merasa dadanya sesak.
"Iyo, aku wes gak kuat rek. Wes gowoen karierku gapopo rek, aku tak mbalik ae gapopo" (Iya, aku sudah nggak kuat rek. Udah, kalian bawa karierku aja gapapa, aku tak pulang aja gapapa) tambah Pesek dengan tertatih-tatih.
"Iki gaonok pick-up ta mobil seng lewat ngono a ben kene isok nggandol" (Ini nggak ada mobil pick-up atau sejenisnya yang lewat ta(?) biar kita bisa bareng) kata Dhima.
"La kon ero dewe maeng ono pick-up lewat kene nyetop tapi gak gelem mandek ngono lo" (La kamu tau sendiri tadi ada mobil pick-up yang lewat, kita berusaha memberhentikan, tapi supirnya nggak mau berhenti (buat ngasih tumpangan) gitu lo) jawabku.
Akhirnya, kami pun diam sejenak. Tiba-tiba mbreng berkata,
"Wes, aku ambek Rosman tak mudun maneh nak parkiran. Sepeda e Rosman lak guduk matic seh, kene engkok oper-operan. Wes, tak belani rek gae kon kabeh rek. Mosok iyo kene gak sido ndaki. Tak belani mudun gae kon kabeh rek, ayowes man" (Yaudah, aku sama Rosman tak turun lagi ke parkiran. Sepeda motornya Rosman kan bukan matic, kita nanti bisa gantian goncengan buat ke pos perijinannya. Tak perjuangin buat kalian semua rek. Masak kita nggak jadi ndaki. Tak turun lagi ke parkiran buat kalian semua rek. Ayo man!) kata Gambreng.
"Iyo, ayowes mbreng. Kon enteni nak kene sek ae rek. Wes santai santai o" (Iya, ayo mbreng. Kalian tunggu disini dulu aja rek. Udah, kalian santai aja dulu) kata Rosman.

Akhirnya, Rosman dan Gambreng pun pergi meninggalkan kita menuju parkiran untuk mengambil dan mengendarai sepeda motornya Rosman. Disela-sela menunggu mereka berdua, kami merasa kedinginan.
"He rek, kon gak adem ta. Ayowes, nggae seng anget-anget" (He rek, kalian nggak dingin ta? Ayowes buat minuman hangat) kata Dhima.
"Looo iyoo masuk iku. Ayowes tokno kompor ambek gas e. Banyu e ambek kopi e endi?" (Looo pas banget. Ayo, kompor sama gasnya dikeluarin dari tas. Air sama kopinya juga mana?) jawab Dimas dengan semangat.
Kami pun mengeluarkan kompor, gas dan segala sesuatu yang bisa dikonsumsi untuk menghangatkan tubuh kita. Pastinya kita membutuhkan tanah yang datar untuk memasak agar posisi kompor tidak miring yang secara otomatis posisi panci juga akan miring. Karena kami berpikir jalanan sangatlah sepi dan tidak mungkin ada mobil atau kendaraan lainnya yang lewat, kami pun memasak di tengah jalan. DI TENGAH JALAN!
"He endi kene banyu  ambek gelas e" (He, mana sini air sama gelasnya) tanya Dimas.
"Iki lo. Aku yo ape nggawe" (Ini lo. Aku juga pingin buat) kataku.
"Aku sisan!" (Aku juga!) jawab teman-teman.
Disaat sedang santai-santainya masak air hangat untuk membuat minuman bahkan mie di tengah jalan, tiba-tiba aku menyadari ada sorotan lampu yang menyinari,
"He rek rek, iku onok uwong ta?" (He teman-teman, itu ada orang ta?) tanyaku. Aku berpikir bahwa pada saat itu ada 2 orang yang sedang berjalan dengan membawa senter.
"He iku gak mobil a?" (He itu bukan mobil ta?) tanya Dhima heran
"HEEE IYOO IKU MOBIL APE LEWAT REKK!!" (Heeyy iya itu ada mobil mau lewat)
"Loh loh kompor e!" (Loh loh kompornya)
"Panci e panci e, awas banyu e panas" (Pancinya pancinya, hati-hati airnya panas)
"Sek sek aku tak menyelamatkan iki" (Sebentar sebentar aku tak menyelamatkan yang ini)
"CEPET REEK CEPET"
Kami semua pun tergesa-gesa membereskan peralatan masak yang ada di tengah jalan. Beruntung kami tepat waktu sebelum mobil tersebut melintas. Kami pun tertawa terbahak-bahak atas kebodohan yang baru saja kita alami. Kejadian ini sontak saja membuat kami semua terjaga dan tidak sunyi seperti sebelumnya. Kami pun melanjutkan memasak dengan kondisi tanah yang miring. Kami pun mengganjal kaki kompor dengan sandal maupun peralatan yang dapat membuat posisi kompor tidak miring atau stabil. Kami pun menikmati malam itu dengan menyeduh kopi maupun teh hangat. Tak lama kemudian, kami mendengar suara sepeda motor. Ternyata itu adalah Gambreng, Rosman dan bapak yang menjaga parkiran. Dibantu bapak penjaga parkiran itu, kami pun dibonceng menuju pos perijinan. 1 sepeda motor bisa berisi 3 sampai 4 orang wkwk. Hal itu dilakukan untuk mempercepat agar tim kita bisa segera sampai di pos perijinan. Akhirnya, kami semua pun tiba di pos perijinan dan waktu telah menunjukkan pukul setengah 1 malam. Kami berniat untuk beristirahat sebentar dan langsung mendaki. Tetapi, tiba-tiba seseorang memanggil kami,
"Loh, arek-arek iki maeng" (Loh, anak-anak yang tadi kan ini)
Ternyata ia adalah seseorang yang kita temui saat kita bertanya arah menuju pos perijinan. Seorang laki-laki yang kelihatannya sudah beristri dengan rambut panjangnya yang keriting, ditambah lagi tas gunung yang begitu tingg (Itu pasti sangat berat hmm). Saat kami ingin mendaki, tiba-tiba bapak itu menahan kami dengan berkata,
"Engkok ae sek lo, santai sek. Munggah e engkok ae jam 5 ta jam 6. Santai sek mas, ikuloh sakno seng wedok-wedok ketok iku lek kesel, ngantuk. Kene wes, turu-turu disek, mangan" (Nanti dulu aja, santai dulu. Ndakinya nanti aja jam 5 atau jam 6 pagi. Santai dulu mas, itu loh kasian yang cewek-cewek, keliatan kalau capek, ngantuk. Sini, tidur-tiduran dulu, atau makan) ajak bapak tersebut.
Bapak berambut panjang keriting beserta rombongannya sangatlah ramah dan perhatian. Bahkan kami saat itu diijinkan untuk tidur di tendanya, ia juga menyajikan makanan hangat untuk kami. Inilah salah satu keistimewaan dari pendakian. Semua pendaki rasa dulur, maksudnya mereka seperti saudara sendiri. Ibarat kalian butuh 1 sendok gula, meminta 1 sendok gula ke pendaki lain, maka kalian tidak akan diberi 1 sendok gula. Tetapi 1 BUNGKUS gula! Itulah salah satu wujud kebersamaan diantara pendaki, dulur atau saudara. Kami sama-sama datang ke alam tidak hanya sekadar menikmati, tetapi juga belajar dari alam. Pendakian juga mengajarkan kami untuk selalu merendahkan rasa angkuh.


---Awal Pendakian---
 
Paginya, hari Sabtu, tepat pukul setengah 6 kami pun melakukan pendakian di Gunung Bhutak. Pos perijinan Gununung Panderman dan Gunung Bhutak memang sama, tetapi akan dibedakan oleh jalur dimana nanti kita menemukan 2 jalur, jalur ke kiri menuju Gunung Panderman dan jalur ke kanan menuju Gunung Bhutak. Tentunya kami mengambil jalur kanan. Perjalanan kami ditemani oleh suara angin berbisik karena pepohonan yang begitu rindang dan hutan yang sangat luas. Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba kami melihat segerombolan Monyet dan kami sedikit mengganggu dengan memanggil mereka dengan nama teman-teman kita,
"Lo Din, onok kembaranmu Din" (Loh Din, ada kembaranmu Din) goda Gambreng.
"Halapo kok aku. Cerlita iki lo, ta Dhima wkwk" (Kok aku, Cerlita mungkin, atau Dhima wkwk) kataku.
"Leh, isok e lo aku e. Rindu" (Loh, malah aku. Rindu) kata Cerlita.
Kami saling tunjuk satu sama lain mengenai siapakah kembaran Monyet yang sesungguhnya wkwk. Monyet-monyet itu masih bermain di pohom dan kami masi memandangi mereka. Aku pun menggoda mereka lagi dengan mengarahkan tanganku agar mereka mendekat,
"Mbreng Gambreng uuuu aaaa"
Tiba-tiba salah satu monyet itu berlari mendekati kami, kami pun lantas terkejut dan disambung dengan gelak tawa karena monyet itu menghampiri kami setelah aku memanggil nama Gambreng wkwk. Setelah puas bercanda ria sekaligus istirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah berjalan cukup lama, tiba-tiba kami mendengar suara anjing menggonggong. Lalu, datang 1 anjing dari belakang kami, tiba-tiba jumlah anjing itu semakin banyak. Beberapa dari kami merasa takut hingga kami harus minggir dan memberi anjing-anjing itu jalan. Ternyata anjing-anjing itu digunakan untuk memburu oleh pemiliknya.

Tujuan awal kami adalah menuju Padang Sabana sebagai tempat camp kami. Sekitar 5 jam kami berjalan, tiba-tiba kami merasa lapar. Kami hanya mengutarakan rasa lapar kami satu sama lain tetapi tak kunjung masak karena malas mengeluarkan peralatan. Jadi, kami memilih untuk terus berjalan. Hingga akhirnya, kami pun beristirahat.
"Sek rek, kesel" (Sebentar rek, capek)
Disela-sela waktu istirahat kami, tiba-tiba tim dari bapak berambut keriting panjang itu datang dan menawarkan kami nasi beserta lauk pauknya.
"Mas, gelem sego a mas? Abot e mas lek tak gowo terus" (Mas, mau nasi ta?. Berat mas kalau tak bawa terus) kata salah seorang tim dari bapak berambut keriting, ia masih tampak muda.
"Oiyo mas, gapopo. Kok tepak mas, iki arek-arek luwe sisan wkwk" (Oiya mas, boleh. Kok ya tepat mas, ini anak-anak lapar juga wkwk) kata Rosman dan disambung oleh anak-anak laki lainnya.
Akhirnya, bapak keriting dan timnya pun pergi meninggalkan kami dengan porsi nasi yang banyak ditambah mie, telur dadar, dan bumbu pecel. Hmmm, sungguh sedap. Tidak peduli kotornya tangan kami, kami memakannya dengan lahap. Di sekolah pun kami terbiasa seperti itu, karena kami tahu, kami sadar, berteman itu tidak perlu gengsi dan tak perlu jaim. Cukup menjadi diri sendiri, main bareng, dan asik bareng. Dhima yang pada saat itu tidak mau makan, akhirnya didulang oleh Cerlita. Cerlita tidak mendulang dengan jari-jarinya, melainkan dengan telapak tangannya wkwk (Dasar kuli wkwk). Ketika enak-enaknya makan, kami sadar terdapat segumpal nasi yang tergeser dari kertas minyak ke tanah, sehingga membuat segumpal nasi itu telah bercampur tanah dan kerikil. Lantas, Gambreng pun mengambil segumpal nasi itu dan mencampurnya dengan nasi-nasi lain yang masih bersih. Awalnya Rosman menolak, tetapi Gambreng sudah terlanjur mencampurnya. Jijik? TIDAK! Makanan adalah sesuatu yang berharga dan kita harus menghargainya. Dari gunung, kami belajar bahwa segumpal nasi dan segelas air dapat menyelamatkan nyawa. Gunung memang media yang luar biasa dari Tuhan untuk mengajarkan arti hidup yang sesungguhnya kepada manusia.

Setelah puas makan, kami pun merasa sangat bersyukur. Lalu, kami melanjutkan perjalanan untuk menemukan Padang Sabana. Begitu lama kami berjalan, hingga setiap kami bertemu pendaki lain kami selalu bertanya 'Apakah Padang Sabana sudah dekat?'. Mereka selalu menjawab 'Ooohh 15 menit lagi', 'Bentar lagi mas/mbak', sungguh, itu adalah kata-kata php yang selalu diucapkan pendaki untuk memberi semangat. Kami terus berjalan sampai kita marah-marah sendiri,
"Makane jenenge Gunung Bhutak, la ancene nggae Mbuthak (Mbutekk) temenan" (Makanya namanya Gunung Bhutak, la memang ngebuat orang jadi stres beneran).


---Tim yang Terpisah---
 
Tiba-tiba, kami menyadari bahwa tim kami terpisah. Aku bersama Cerlita, Dhima, Tianny, Gambreng, Pesek, dan Ghozy (Sebut saja tim 7). Sedangkan, jauh di belakang kami ada Rosman, Deo, Dimas, dan Rindu. Mereka berempat kami juluki Golongan Warung Kopi pada saat itu. Karena, awal mula tim kami terpisah adalah alasan Rosman yang ingin beristirahat sambil meminum kopi, dan Rindu membawa banyak minuman sachet layaknya orang yang berjualan di warung wkwk. Ketiga cowok itu juga sekalian menjaga Rindu. Sedangkan timku yang berada jauh di depan mereka menjaga adek kelas kami, Tianny dan Ghozy. Sebenarnya, kami sempat ragu mengajak Rindu untuk ikut mendaki bersama kami. Bahkan kami sempat memperdebatkan tentang keikutsertaan Rindu dalam pendakian ini. Kami merasa khawatir dan tidak ingin repot hanya karena menjaga salah satu dari tim kami. Kami merencanakan membawa segala macam obat-obatan dan membeli tabung oksigen. Tetapi, kami tidak jadi membelinya karena harganya mahal wkwk lebih baik uangnya untuk menyewa tenda dan kompor wkwk. Kami memandang Rindu sebelah mata pada saat itu, karena setiap apel maupun upacara di sekolah, ia sering pingsan dan masuk UKS wkwk. Keputusan kami untuk mengajak Rindu karena kami sadar, Rindu juga teman kami sekelas, kami tidak boleh membeda-bedakan. Semua masalah ditanggung bersama, lagian kami juga sudah duduk di kelas 12 dan sebentar lagi akan berpisah.

Kami melewati Hutan Lumut yang sangat panjang dan tiada hentinya. Di Hutan Lumut, udaranya begitu lembab dan sangat sunyi. Sedikit menyeramkan karena kami takut salah jalur dan tersesat. Rasanya kami terus-terusan melewati hutan ini tanpa ada garis akhir. Tim 7 pun telah melewati dan mengakhiri perjalanan di Hutan Lumut. Namun, kami tak kunjung menemukan Padang Sabana. Didalam hati kami terus bertanya dan ngedumel seberapa jauh lagi kami harus sampai di Padang Sabana(?) Hmm. Kami juga terus-terusan bertanya satu sama lain mengenai keadaan Golongan Warung Kopi. Kami takut jika terjadi sesuatu diantara mereka. Suasana semakin gelap. Rintik-rintik hujan pun mulai turun. Awalnya kami ingin terus berjalan, tetapi hujan semakin deras. Mau tidak mau kami harus mendirikan tenda untuk berlindung agar tidak kebasahan. Diitambah lagi kami membawa pendaki pemula, adek kelas kami, kami harus melindungi mereka juga. Kami pun mencari tempat datar untuk mendirikan tenda. Begitu sulit mencari tanah yang datar dan cukup luas untuk mendirikan tenda. Beruntung, Gambreng menemukan tempat yang datar. Dengan keadaan tubuh yang kedinginan ditambah hujan yang mulai deras pun kami mendirikan 2 tenda.
"Ayo rek, ndang ndirino tenda" (Ayo rek, segera mendirikan tenda) kata Gambreng
"Iyo, iyo" (Iya, iya) sahut teman-teman lainnya.
Setelah kedua tenda telah didirikan, kami pun masuk ke tenda. TIDAK! Aku satu tenda dengan lelaki! Awalnya didalam hatiku aku tidak mau satu tenda bersama laki-laki. Pendakian sebelumnya kami selalu membedakan tenda wanita dan tenda lelaki. Tapi kali ini harus campur! 1 tenda bisa berisi anak cewek dan anak laki-laki. Lantas, aku berpikir, tidak mungkin aku arus mengusir teman laki-lakiku keluar dari tenda, keadaan di luar sangat tidak memungkinkan, hujan deras dan pastinya teman laki-lakiku bisa kedinginan bahkan hipotermia. Dari situ aku belajar, dunia ini begitu fleksibel dan semuanya bergantung pada situasi dan kondisi. Tidak setiap saat kita harus mengikuti peraturan pokok, peraturan pokok atau wajib pun sewaktu-waktu dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi. Kita juga tidak boleh egois, tidak mungkin aku ingin temanku sakit dan terbunuh hanya karena keegoisanku. Salah satu fungsi teman adalah menjaga, melindungi, bukan membunuh atau menghianati.

Hari semakin larut, hujan deras pun berubah menjadi tetesan-tetesan kecil. Kami khawatir, karena kami belum bertemu Golongan Warung Kopi dan mengetahui kabar mereka. Kami, tim 7 pun memasak dan membuat minuman hangat. Selepas itu, kami masuk ke tenda untuk beristirahat. Niat kami yang awal mulanya ingin tidur, berubah menjadi canda gurau yang membuat kami tertawa terbahak-bahak di dalam tenda. Tenda yang terbagi menjadi 2 membuat kami berkomunikasi dengan cara berteriak-teriak dari dalam tenda. Gambreng berada di tenda yang beda denganku. Ia pun berbincang dengan teman-teman tendaku dari dalam tendanya,
"He rek, kabar e Golongan Warung Kopi iku yaopo yo?" (He rek, kabarnya Golongan Warung Kopi itu gimana ya?) kata Gambreng.
"Mboh. Nandi yo arek-arek iku. Kok gak totok-totok" (Nggak tau, kemana ya anak-anak itu. Kok nggak sampai-sampai) jawabku.
"Wes alah, iki gara-gara Rosman tok njaluk nak Bhutak. Cobak kene maeng nak Panderman, lak enak, wes totok puncak. Nuruti lambene Rosman iku ancen gatel kok wkwk" (Gini ini, gara-gara Rosman minta ke Gunung Bhutak. Coba kalau tadi kita ke Gunung Panderman, kan enak, pasti sudah sampai puncak. Ngikutin omongannya Rosman emang ngeselin) kata Gambreng.
Kami terus-terusan ngedumel karena tak kunjung menemukan Padang Sabana selama 12 jam berjalan. Jika kami telah menemukan Padang Sabana itu menandakan bahwa puncak sudah dekat. Ditambah lagi keindahan Padang Sabana yang begitu mempesona saat kita melihatnya di internet.
"He rek, seng wedhok-wedhok masak o poo rek. Luwe"  (He rek, yang cewek-cewek masak dong. Laper) kata Gambreng.
Seketika Cerlita membalas dengan suara cemprengnya,
"Emoh, la kok enak e" (Nggak mau, la kok enak) jawab Cerlita XD
Aku, Tianny dan Dhima pun tertawa. Pesek dan Ghozi yang sudah lelah memilih diam wkwk
"Seng nyetir lanang, seng nggowo karier lanang, seng ndirino tenda lanang, wedhok e karek masak kok angel" (Yang nyetir laki-laki, yang bawa karier laki-laki, yang mendirikan tenda laki-laki, ceweknya tinggal masak aja kok susah) jawab Gambreng.
"Seng nyetir lanang, seng nggowo karier lanang, seng nggowo tenda lanang, seng ndirino tenda lanang, wedok e yo nyanteeee" (Yang nyetir laki-laki, yang bawa karier laki-laki, yang bawa tendanya laki-laki, yang mendirikan tenda laki-laki, ceweknya ya santai lah) protes Cerlita dengan suara cemprengnya yang lantas mengundang gelak tawa.
Disaat kami semua tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba kami mendengar suara derap langkah kaki yang mendekati kami. Kami diam sejenak dan perasaan takut pun mulai datang. Kami juga mendengar percakapan. Dugaan kami itu adalah Golongan Warung Kopi karena kami mendengar suara Rosman. Secara refleks pun aku berteriak memanggil nama Rosman dari dalam tenda,
"Man Rosman?" kataku
"Oposeh" (Apa seh) jawabnya
"Kon kok isok ero man lek kene nge-camp nak kene?" (Kamu kok bisa tahu kalau kita nge-camp disini?) tanyaku.
"La yaopo, ngguyumu lo koyok alarm, buanter wkwk" (La gimana, suara ketawamu keras seperti alarm) jawabnya.
Golongan Warung Kopi yang baru saja sampai pun akhirnya mendirikan tenda. Aku dan teman-teman lainnya pun keluar dari tenda dan membantu mereka. Menikmati suasana malam bersama teman-teman di gunung rasanya begitu luar biasa. Memandangi bintang-bintang, hembusan angin yang begitu lembut, kami juga melihat tupai yang sedang memanjat pohon tepat di dekat tenda kami. Minuman hangat menemani kebersamaan kami. Senda gurau dan cerita-cerita yang kami ceritakan menjadi bagian dari pendakian kami. Suasana yang gelap, damai, tentram, jauh dari kebisingan kota dan alat elektronik membuat kebersamaan kami semakin erat dan terasa pula pertemanan yang sebenarnya.
"Rek rek, kompor e gaisok nyala" (Rek rek, kompornya nggak bisa nyala) kataku yang pada saat itu ingin memasak air.
"Iyo, angin e banter soale" (Iya, anginnya cukup kencang soalnya) kata Pesek.
Akupun lantas mengambil sandal gunung yang aku tidak tahu siapa pemiliknya. Tiba-tiba, Gambreng mencium bau yang sedikit gosong.
"He rek, mambu opo iki?!" (He rek, bau apa ini?!) kata Gambreng.
Gambreng lantas mengarahkan pandangannya menuju kompor yang sedang kunyalakan dan kulindungi dengan sandal agar apinya tidak mati.
"Lo, sandal e kobong wahaha, sandal e sopo iki?" (Lo, sandalnya kebakaran wahaha, sandalnya siapa ini?) lanjut Gambreng.
Deo yang kala itu sedang mencari pasangan sandalnya pun tiba-tiba tersadar,
"Lo! Iku sandalku!" (Lo! Itu sandalku!) kata Deo.
Semuanya pun tertawa terbahak-bahak. Sungguh suasana yang begitu menyenangkan dapat bersenda gurau bersama teman-teman di malam hari ditemani oleh secangkir kopi dan teh. Rasa kantuk pun akhirnya menghampiri kami. Kami pun masuk ke dalam tenda untuk istirahat.


---Mencari Sumber Air di Padang Sabana---
 
Keesokan paginya, dihari Minggu, jam menunjukkan pukul 4 pagi. Kami pun saling mengode satu sama lain dari dalam tenda untuk bertanya apakah teman-teman kita sudah bangun atau tidak. Aku, Cerlita, Gambreng, dan Dhima sudah bangun pada saat itu, Gambreng pun memiliki niatan jahat wkwk
"He, arek tenda sebelah (tenda Golongan Warung Kopi) iki wes tangi ta?" (He, tenda sebelah (tenda Golongan Warung Kopi) ini sudah bangun ta?) tanya Gambreng.
"Gaero. Lapo o emang?" (Nggak tau. Kenapa emangnya?) tanyaku dan Cerlita.
"Ayo a, kene metu, terus tenda e arek-arek iki diguoyang-goyangno sampek tenda e ancur" (Ayo a, kita keluar, terus tendanya anak-anak (Golongan Warung Kopi) diguncang-guncangin sampai tendanya hancur wkwk) ajak Gambreng jail.
Tiba-tiba Gambreng berteriak,
"Lo lo, onok opo iki tendoku?" (Lo lo, ada apa ini sama tendakuu?) kata Gambreng terkejut.
"LAPO? Ape mbok apakno tendoku?!" (Kenapa? Kamu ada rencana apa nuat tendaku?!) kata Deo yang lantas membuat kami tertawa.
Ternyata Rosman dan Deo telah bangun. Namun, Dimas dan Rindu masih berada pada mimpi indahnya wkwk. Gambreng pun menceritakan bahwa setelah Gambreng menyampaikan niat jaatnya, Deo dan Rosman mendengarnya dan langsung mengguncang-ngguncang tenda milik Gambreng WKWK. Satu per satu teman-teman kami mulai bangun dari tidurnya. Matahari pun terbit menyambut kami. Kami pun mulai memasak dan mempersiapkan diri untuk kembali. Sebenarnya kami merasa sedih pada saat itu, karena baru kali ini kami mendaki tidak mendapatkan puncak. Puncak memang bukan tujuan dari pendakian. Tujuan dari pendakian adalah kembali dengan rumah dengan selamat. Namun, kami juga tidak ingin munafik. Pendakian terasa tidak lengkap jika kita belum sampai di puncak. Kami sempat menyalahkan Rosman karena Rosman lah yang meminta kita untuk mendaki di Gunung Bhutak. Kami merasa sangat sedih. Setelah itu, kami menyadari jika pasokan air minum kita sudah habis. Kita membutuhkan air minum untuk turun ke bawah. Di bawah tidak ada sumber air, jikalau ada pun itu pasti jauh dari tempat camp kita. Kami pun memutuskan untuk mengambil air di Padang Sabana. Padahal, kita tidak tahu harus berapa lama lagi kita sampai gi Padang Sabana. Perjalanan selama 12 jam untuk mencari Padang Sabana sudah sangat melelahkan bagi kami. Mau tidak mau, kita harus menemukan Padang Sabana karena disana terdapat sumber air yang melimpah, jika tidak, teman-teman bisa kehausan. Dimas, Rindu, Tianny, dan Ghozi memilih untuk tetap tinggal di tenda. Dimas bertugas untuk menjaga Rindu, Tianny, dan Ghozi karena mereka ini pengalaman pertama mendaki bagi mereka. Jadi, wajar saja jika mereka merasa lelah. Tapi, ini adalah pencapaian yang luar biasa bagiku dan teman-teman, mereka bisa sampai di titik setinggi ini walaupun belum sampai puncak.

Aku, Dhima, Cerlita, Deo, Pesek, Rosman, dan Gambreng pun melakukan perjalanan menuju Padang Sabana untuk mengambil air. Perjalanan sangat melelahkan, jalanan yang begitu menanjak dan tiada hentinya. Sampai-sampai aku dan Cerlita minta digendong Rosman wkwk. Cukup lama kami berjalan, Padang Sabana tak kunjung ditemukan. Perjalanan ini benar-benar melatih kesabaran. Lihat! Tiba-tiba kami menemukan jalan yang indah namun juga menantang. Jalanan setapak yang hanya cukup dilalui oleh 1 orang, dan di sebelah kiri langsung terdapat jurang yang jika kita terjatuh akan sangat berbahaya. Belum lagi kondisi fisik jalan yang tiba-tiba terputus dan terdapat pepohonan yang tumbang sehingga kita harus menyebrang dan melangkah dengan hati-hati, jika tidak kita bisa jatuh terpleset bahkan pulang tinggal nama. Selepas melewati jalanan setapak yang dihiasi dengan jurang itu, kami pun dipertemukan dengan jalanan yang penuh dengan pepohonan yang rindang. Aku pun berjalan di depan lebih dulu agar aku bisa memberikan sinyal bahka aku sudah menemukan Padang Sabana. Tak lama setelah itu, aku melihat seperti kain yang berkibar dari ketinggian. Aku rasa itu bendera. OH YA! ITU BENDERA MERAH PUTIH! Aku pun berlari dan ingin memberitahu teman-teman bahwa aku melihat bendera setelah teman-teman menyusulku.

Padang Sabana Gunung Bhutak

Disaat aku berlari, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pemandangan yang begitu luas dan sangat indah. PADANG SABANA! AKU MELIHATNYA! AKU SAMPAI! AKU MENEMUKANNYA! Akupun berteriak kepada teman-temanku yang berada tidak cukup jauh di belakangku,
"REEKK PADANG SABANA REKK!!" (Teman-teman, aku melihat Padang Sabana!) kataku berteriak yang sekaligus haru.
"Seng nggenah Mbak Din?" seru Dhima
"Seng temen kon?!" (Yang bener kamu?!) lanjut Rsoman
"Temen a?!" (Serius?!) kata Gambreng
"Endi endi?" (Mana? Mana?" kata Cerlita
Seketika semua teman-temanku pun berlari dan sesampainya mereka sangat terpesona oleh keindahan alam yang ada. Padang Sabana yang begitu luas, indah, sangat susah mendeskripsikan kebahagian kami pada saat itu. Padahal, awalnya kami mengira kami tidak bisa mencapai Padang Sabana. Faktanya? Kami bisa! Ditambah lagi ketika kita melihat bendera yang tampak berkibar di ketinggian, kami pun yakin, bahwa puncak sudah dekat. Kami pun menuju sumber air yang ada di Padang Sabana. Kami juga memutuskan untuk melakukan perjalanan ke Puncak Gunung Bhutak karena rasanya sangat tanggung. Kami sudah dekat dengan puncak, mengapa tidak sekalian?. Setelah mengisi air minum, Pesek dan Cerlita memilih menunggu di Padang Sabana karena mereka sudah lelah. Tersisa aku, Dhima, Gambreng, Deo, dan Rosman yang melakukan perjalanan menuju Puncak Gunung Bhutak.


---Kemustahilan Berbuah Kemungkinan---
 
Kami berlima pun melakukan perjalanan dengan berbekal 3 botol besar air minum. Perjalanan awalnya masih datar dan mudah. Semakin keatas, jalan semakin menanjak. Aku sempat ragu pada saat itu, aku takut terjatuh. Setiap kita semakin keatas, kita harus berpegangan pada pohon-pohon kecil yang ada. Tanjakannya semakin miring! Jika tidak berpegangan, aku bisa jatuh dan terguling. Teman-temanku yang ada di depanku selalu sigap menolong aku,
"Ayo Din, ayo Din, cekelen tanganku. Tak ewangi" (Ayo Din, ayo Din, pegangen tanganku. Aku bantu) kata Deo.
Asal kalian tahu, dulu saat awal SMA, Deo tidak mau bersentuhan dengan cewek. Sama sepetiku, yang dulu tidak mau satu tenda dengan laki-laki. Tetapi, semenjak ia menjadi pendaki, ia banyak belajar mengenai makna hidup yang diajarkan Tuhan sesungguhnya. Ia tidak mau membiarkan temannya celaka hanya karena tidak mau bersentuhan. Alam memang benar-benar merubah manusia menjadi lebih baik bagi ia yang mau mempelajari dan memahaminya.
Semua teman-temanku saling menyemangati agar kita dapat meraih puncak bersama-sama. Saling tolong-menolong dengan mengulurkan tanggannya dan mencarikan pijakan yang tepat agar tidak terjatuh. Setelah itu, jalanan pun menjadi lebih baik, lebih datar dari sebelumnya walaupun masih tetap menanjak. Setidaknya kemiringannya tidak separah yang tadi.
"Rek! Iku merah putih rek!" (Rek, itu bendera merah putih rek!) seru salah satu temanku.
Lantas aku ingin menangis haru karena ternyata aku berhasil sampai di Puncak. Awalnya aku merasa bahwa perjalananku kali ini akan menjadi sia-sia dan mustahil untuk sampai puncak! ternyata tidak! Dhima pun datang menghampiriku dan aku melihat matanya berkaca-kaca. Kami pun berpelukan sembari mengucapkan rasa syukur dalam hati. Kami semua merasa sangat senang, bisa sampai puncak. Pemandangan dari puncak begitu indah. Awan-awan berada di bawah kami. Rasanya seperti berada di negeri di atas awan. Betapa bersyukurnya dan bahagianya kami pada saat itu. Setelah puas, kami pun turun menuju Padang Sabana untuk menghampiri Cerlita dan Pesek. Dilanjutkan perjalanan menuju tempat dimana tenda kami dirikan. Di tengah-tengah perjalanan, kami bertemu dengan tim dari Bapak berambut Kriting. Kami bertanya, siapakah nama bapak berambut keriting itu. Lantas bapak itu pun menjawab bahwa cukup memanggilnya dengan sebutan 'Ayah' karena semua orang memanggilnya Ayah. Beliau memang seperti ayah bagi kami, beliau yang mempersilahkan kami istirahat di tendanya dihari pertama, memberikan kami makan, bahkan beliau berencana untuk memberikan kami minuman kacang hijau hangat saat di Padang Sabana. Sayangnya, kami tidak mendirikan tenda di Padang Sabana karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan pada saat itu.

Sesampainya di tempat camp kami, kami bercerita bahwa kami telah menemukan Padang Sabana dan sampai di Puncak Gunung Bhutak. Dimas yang sedang memasak nasi goreng pada saat itu merasa menyesal WKWK. Setelah mengisi perut, kami pun bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan turun dan pulang.
"Wes siap kabeh kan? Ayo mudun slak bengi" (Sudah siap semua kan? Ayo segera turun sebelum malam).
Kami pun melanjutkan perjalanan turun. Perjalanan turun kami hanya memakan waktu 3 jam karena kami berlari. Sesampainya di Pos Perijinan, kami beristirahat sebentar lalu melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.



Dari pendakian ini, begitu banyak kenangan dan pembelajaran yang kudapatkan. Kesuksan kebanyakan tidak didapatkan melalui usaha sendiri, tidak didapatkan melalui saling menjatuhkan, dan tidak didapatkan melalui keegoisan. Kesuksesan kebanyakan diperoleh dengan cara bersama-sama, saling mengulurkan tangan untuk membantu. Banyak orang yang bangga ketika ia mencapai puncaknya dengan seorang diri. Mereka hanya belum tahu, betapa nikmatnya dan bahagianya kita ketika kita berhasil mencapai puncak bersama teman-teman kita. Kita tidak bisa meremehkan kekuatan pertemanan, dan tidak bisa meremehkan kekuatan teman juga. Jangan hanya memandang teman sebelah mata, mungkin secara fisik ia memang lemah, tetapi, asal kalian tahu, terkadang teman menjadi lebih kuat ketika mentalnya sedang diuji. Kekuatan mental mengalahkan kekuatan fisik. Dan kekuatan mental lahir dari dalam seseorang atas dasar cinta, kasih, dan sayang. Percaya atau tidak, teman yang lemah fisik dapat menjadi lebih kuat ketika teman-teman disekitarnya menyemangatinya, dan ia berpikir untuk tidak merepotkan teman-temannya. Oleh karena itu, ia akan berusaha untuk menjadi pribadi yang kuat!

Pendakian ini, mengajarkanku, bahwa tidak ada yang mustahil selama kita percaya. Jangan hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri, kekutan dari teman-teman juga penting, kekutan Doa juga hal yang utama. Manusia boleh merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan. Tuhan pun menentukan juga melihat usaha dan doa kita. Usaha dan doa layaknya saat kita mengayuh sepeda. Ketika kita terus menerus melakukannya, maka kita akan sampai pada sesuatu yang kita inginkan.

Kawan~ terima kasih atas cinta, kasih, dan sayang kalian. Kebersamaan kita, baik saat dibawah maupun diatas, di kota maupun di gunung, itu merupakan hal yang sangat sulit untuk ditemukan dan dimiliki oleh manusia lain. Terima kasih, telah mengenalkan aku pada kegiatan yang bernama 'Pendakian'. Terima kasih, telah mengenalkan aku pada sebuah ciptaan Tuhan yang begitu agung bernama 'Gunung'. Terima kasih telah mengajarkan aku hubungan pertemanan yang sesungguhnya bernama 'Persaudaraan'. Bersaudara tidak harus se-darah bukan?. Salam Rinduku, untuk kalian semua. See you on top, lurrr!!

Gunung Bhutak, 2868 mdpl
Desember 2016



 Beberapa foto-foto kami saat di Gunung Bhutak (Foto yang tersisa :'D)


 Instagram : sandalpawonadventure


2 komentar:

  1. Terus berkarya tor din, aku suka baca ceritanya tor dini, sangat memotivasi😄👍 (A4 smahatma)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siaap, terima kasih hihihi. Tunggu tulisan2 aku lainnya yaa hwehehe. Makasih banyak atas apresiasinya ^^ Sukses buat studinya yaa ^^

      Hapus